Sunday, March 26, 2006

Tedjo
mencari sisi kemanusiaan yang semakin susah ditemukan di jaman yang materialistis dan egois ini

Aku sedang duduk santai dengan sahabatku Ken di teras rumah kontrakanku. Sebelumnya aku melihat acara TV yang menayangkan kisah seorang preman yang kemudian bertobat dan belajar agama. Dalam kisah itu, digambarkan kehidupannya sebagai preman yang tentu saja diwarnai alkohol, kekerasan, wanita, dan segala tindak kejahatan. Suatu kali dia dijebak oleh temannya dalam pertikaian antar geng dan dia nyaris tewas dalam pertarungan tak berimbang. Dia tertolong oleh seorang kakek tua yang kebetulan lewat dan menemukannya sedang sekarat di pinggir jalan. Sejak pertemuan itu hidupnya berubah drastis. Dia sadar setelah nyaris menemui ajal. Bahkan kemudian hari dia menjadi ustad, suka memberi nasehat pada anakanak muda, suka menolong orang yang kesusahan, membantu rehabilitasi pemudapemuda kecanduan narkoba, dan seabrek lainnya. Satu hal yang membuat benakku tergerak melihat sisi kemanusiaan yang ditonjolkan dalam kisah itu.

“Apakah yang lebih manusiawi bagi manusia selain kemanusiaan itu sendiri?” tanyaku pada Ken membuka obrolan sore itu.

“Apa maksudmu?” dia balik bertanya karena tentu saja dia akan bingung mendapat pertanyaan filosofis yang begitu tibatiba dariku.

“Seorang anak manusia terlahir dalam kondisinya yang paling sederhana dan lemah, yang menggantungkan hidupnya pada manusiamanusia lain sampai dirinya menjadi manusia mandiri atau manusia yang mampu berusaha sendiri untuk hidup. Anak manusia telah menjadi manusia mandiri dengan kemanusiaan yang diberikan oleh manusiamanusia dari lingkungannya. Namun karena setiap manusia memiliki kehendak bebas, seorang anak manusia yang dibesarkan dalam lingkungan manusiawi sekalipun bisa terjerumus dalam kondisi kemanusiaan yang dangkal dan bisa tersesat sampai tak mengenal lagi kemanusiaan. Tapi meski sudah tersesat sekalipun, dia masih bisa merubah haluan dan menemukan kembali kemanusiaan yang dulu pernah dimilikinya.”

Ken tercengang mendengar ulasan panjang lebar dariku. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tapi dia pun menimpali dengan pertanyaannya.

“Kamu sedang mencoba menceritakan sesuatu?”

Dua hari lalu dia kukabari kalau aku sedang berada di luar kota, tepatnya di Malang. Secara sepihak aku membatalkan janji pertemuanku dengannya. Walau begitu dia tak aku beritahu sedang apa aku di sana. Maka sekarang akan aku ceritakan apa yang sebetulnya terjadi.

“Saat aku di Malang dua hari lalu, aku bertemu dengan seseorang bernama Tedjo. Dan begitulah akhirnya, Tedjo memilih jalan hidupnya. Terlahir sebagai anak lakilaki pertama dalam keluarganya yang serba berkecukupan, dia tumbuh menjadi anak yang akrab dengan cimeng, sabu, drugs dan segala bentuk kerabatnya yang haram jadah itu. Setelah cukup lama mengenal dan dikenal narkoba, sempat menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang) polisi, menjalani kegelisahan hidup sebagai incaran polisi dan bandar dengan segala kisah pelariannya dari satu kota ke kota lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dia akhirnya menambatkan dirinya di gereja dan merubah halauan menjadi seorang anggota emergency resque (ER). Dari seorang manusia public enemy menjadi panutan adik dan temantemannya. Dari seorang manusia yang selalu menghadapi kegelisahan hidup menjadi seorang yang sangat peduli dan total dalam memberikan bantuan kemanusiaan.”

Ken duduk manis menikmati es teh manisnya tampak tertarik dengan apa yang aku ceritakan. Paling tidak aku mencoba memberi alasan kenapa janji kami kubatalkan secara sepihak.

“Postur tubuhnya tidaklah terlalu istimewa, bahkan mungkin biasabiasa saja seperti kebanyakan anak muda walau umurnya tidaklah muda lagi, sekitar 40an tahun. Kulit kuning kecoklatan, tinggi sekitar 170an dengan bobot 70an, rambut gondrong ikal, telinga beranting salib, sepintas mirip Indian Amerika. Satu hal yang jadi ciri khas Tedjo yang diperolehnya akibat pergaulan dengan narkoba, kalau bicara apalagi sedang emosi, kulit pipinya berkedutkedut dan mulutnya tertarik ke atas. Dan kisah ini aku peroleh saat salah seorang temanku kehilangan adiknya karena tenggelam di pantai Sendiki-Tamban.”

Sepanjang hari itu sangatlah menyiksa dengan panas terik matahari serasa membakar kulit. Walau dalam rumah sekalipun sangat tidak nyaman. Berkeringat terus, sahingga aku harus sesering mungkin membasahi kepala, tangan dan badanku dengan air. Bahkan aku sampai harus mandi tiga kali. Dengan cuaca seperti itu, tentu saja duduk di lantai teras rumah sambil menikmati es teh manis dan sesekali dihembus angin malam terasa sangat menyenangkan. Aku bersandar pada dinding jendela dengan kacanya terbuka. Angin yang berhembus dari celacela membuat tubuhku bergairah.

“Lanjutkan ceritamu. Aku ingin mendengar tokoh kemanusiaanmu yang satu ini. Ceritakan dengan detail,” pinta Ken.

“Baiklah. Begini ceritanya,” kataku dengan mantap. “Hari itu minggu pagi, para nelayan tidak banyak yang beraktifitas di laut, hanya satu atau dua perahu tongkang saja yang terlihat. Sebagian besar wong Tamban yang berada di pesisir Laut Selatan hanya bergerombol di pantai dengan puluhan anak muda dari kota. Ada yang memang sengaja datang ke Tamban untuk rekreasi, tapi sebagian besar anakanak muda dari kota itu datang tidak untuk bersenangsenang, tapi sedang melaksanakan tugas kemanusiaan. Ya, melakukan tugas kemanusiaan, kata Tedjo berulangulang pada wartawan yang meliput. Satu truk polisi dengan muatan penuh sekitar 24 personil bisa dijadikan daya tarik pengunjung yang baru datang dan memicu timbulnya pertanyaan. Ada apa?

“Anakanak muda berseragam rompi atau kaos oranye betuliskan emergency resque atau SAR yang seliweran di Tamban bukan karena sedang rekreasi atau latihan, tapi karena satu hari sebelumnya ada kecelakaan yang menimpa sejumlah mahasiswa Uniga di pantai Sendiki, yang mengakibatkan 4 orang hilang tertelan ombak. Maut tak pernah memberitahu kapan akan datang. Tidak juga pada beberapa mahasiswa yang terpesona pada pasir putih dan ombak membuih pantai Sendiki. Tak pernah terlintas di benak mereka kalau berpose di garis pantai dengan cipratan air laut membasahi kaki dan badan mereka akan berakibat begitu fatal. Hanya dua orang yang berhasil selamat setelah dilemparkan kembali oleh ombak ke pantai yang berkarang, sementara empat orang lainnya langsung menghilang pada tarikan gelombang yang kedua. Dan setelah satu malam berlalu para relawan kemanusiaan itu masih tak sanggup mencari, apalagi menyelamatkan yang mungkin masih hidup.

“Watu pecah, begitu wong Tamban menyebut lokasi itu. Dasar lautnya berbentuk oval dengan komposisi karang dan pasir yang terjadi retakan besar sehingga arus dalam yang cukup besar akan menyebabkan pusaran kuat dan akan menjebak apa saja di dalamnya. Miripmirip angin tornado di darat. Kondisi cuaca siang itu juga tak begitu bersahabat. Angin kencang dan sinar matahari yang sangat terik membuat kulit tak terasa sudah menghitam. Ombakpun bergulunggulung hingga setinggi dua-tiga atap rumah.

“Aku sendiri menyaksikan betapa ganasnya pantai Laut Selatan saat itu. Alam seakan tak membiarkan manusia berusaha walau demi kemanusiaan. Alam mungkin telah bersepakat dengan maut pada saatsaat itu. Siapa saja yang nekat menantangnya akan berhadapan dengan mereka berdua. Tapi Tedjo masih belum mau menyerah pada keduanya. Dia sangat sadar dan memahami kondisi seperti itu. Dia masih tetap bersikeras bukan karena ingin menantang keduanya, alam dan maut. Tapi tekad untuk kemanusiaan, demi keluarga yang sedang berharap cemas, dan waktu yang masih tetap berdenyut yang membuatnya terpaksa menempuh resiko. Dia sadar betul tak bisa menantang alam dan maut. Dan tak kalah sadarnya tentang menanggung resiko yang menanti setiap tindakannya. Rasional dan penuh perhitungan berdasarkan pengalamanlah yang membuatnya yakin untuk menyelami Watu Pecah.

“ ‘Konyol kalau orang SAR sampai harus di-SAR oleh orang lain,’ katanya padaku dengan gayanya yang humoris. Jadi dia memperhitungkan segala resiko dan keamanannya sendiri dengan cermat.

“Maka setelah perut terisi makanan secukupnya, aku menyaksikan aksi Tedjo. Tiga perahu tongkang bermesin diesel dan didukung kompresor untuk suplai oksigen dalam air bergegas didorong menuruni garis pantai menerjang ombak berformasi dua-tiga. Hingga tadi pagi sudah tiga kali mereka menelusuri perairan pantai Tamban-Sendiki tanpa hasil. Dan sekarang dengan tekad yang masih sama, mereka akan menyelami lokasi tempat kejadian yang bahkan ditakuti penyelam tradisional desa Tamban sendiri.

“Sekitar jam sebelas siang, dari kejauhan perahuperahu itu terombangambing ombak naik turun. Perahu sepanjang 6 meter dan lebar 1,5 meter terlihat kecil dan takberdaya seperti mainan.

“ ‘Kita menyelam. Tapi jangan ambil resiko kalo arus dalam terlalu kuat. Pak Yo dan Pak Tiono, siap?’ kata Tedjo saat briefing di Posko Tenda beberapa waktu lalu.

“Dan sekarang satu per satu mereka terjun dari perahunya masingmasing. Pak Yo dengan pakaian selamnya dan Pak Tiono juga dengan pakaian selamnya terjun lebih dahulu. Keduanya karyawan PLN dengan jabatan yang jauh berbeda. Pak Yo berumur 50an tahun adalah seorang sekretaris manajer, sementara Pak Tiono lebih muda sekitar sepuluh tahun adalah seorang sersan marinir aktif yang juga menjadi satpam di perusahaan negara itu. Mereka satu tim ER dengan Tedjo.

“Masih ada beberapa orang lagi anggota tim Tedjo, mereka memiliki latar belakang yang tak kalah menarik. Pak Miswar anggota paling tua, kakek bercucu dua ini berprofesi sebagai tukang tambal ban. Pak Denden yang masih berumur 30an tahun hanya seorang karyawan swasta beranak satu. Sementara Anjang dan Deny masih aktif sebagai mahasiswa. Begitu pula dengan beberapa anggota muda lainnya, ratarata mereka masih mahasiswa atau baru lulus sekolah. Tua, muda, manajer, tukang tambal ban, suku, agama, ras, kaya, miskin, tak menghalangi mereka menjadi manusiamanusia yang memiliki kepedulian dan kemanusiaan yang pada jaman materialistis ini sudah sangat jauh terpuruk.

“Satu setengah jam sudah berlalu sejak perahu terakhir meninggalkan Tamban. Kini satu per satu telah kembali membawa penat keringat dan tubuh kelelahan. Kulit yang tak terbungkus pakaian sudah belang lebih menghitam. Tedjo berjalan tanpa alas kaki menyusuri pasir laut yang sebenarnya juga panas. Tapi dari wajahnya masih terukir senyuman walau guratgurat kekecewaan juga tampak jelas menghiasi wajahnya.

“Hari semakin siang, semakin banyak juga orang yang berdatangan. Tedjo dan para anggota SAR lainnya berkumpul di Posko Tenda melakukan briefing. Banyak wajahwajah baru telah ikut bergabung. Dari berbagai tim relawan. Tapi Tedjo tidak memandang bendera yang disematkan di baju mereka, atau pangkat yang menempel di seragam mereka. Semuanya sama bagi Tedjo, manusia yang punya jiwa kemanusiaan, walau sebenarnya dia juga tahu bahwa tidak sedikit dari mereka yang sekarang berkumpul ini tipe manusiamanusia yang lebih mencari popularitas ketimbang kemanusiaan murni.

“ ‘Oke. Nanti sore kita kembali lagi. Menyusuri garis pantai sambil memetakan kondisi arus, angin, dan kemungkinan letak jasad setelah dua malam. Kalo sampai sore nanti masih nggak ketemu juga, terpaksa kita tunggu besok paginya. Mudahmudahan semuanya sudah bisa terapung walau kemungkinan tersangkut karang bisa saja terjadi,’ kata Tedjo menyampaikan agenda untuk sisa hari itu.

“Seorang perserta ikut urun rembuk. ‘Saya dan temanteman baru tadi pagi datang. Jadi mohon maaf kalo menanyakan bagaimana koordinasi antar tim?’

“ ‘Baik. Untuk koordinasinya bisa kita lakukan seperti sekarang ini, melalui rapat dan setiap orang bisa mengajukan pendapatnya. Sedangkan yang berhubungan dengan pihak terkait sudah saya lakukan dengan beberapa orang teman. Beberapa waktu lalu saya sudah bicara dengan komandan POSAL wilayah Sendang Biru, Polsek Tamban, media massa dan pihak Uniga sendiri. Akan lebih banyak dukungan mulai sore nanti.’

“ ‘Bagaimana konkretnya aktivitas sore nanti?’ seorang peserta lainnya turut buka suara.

“ ‘Masih seperti yang sudah kita lakukan. Ada tim laut dan tim darat. Tim laut menggunakan perahu yang ada, sedangkan tim darat berjalan menyusuri pantai sampai di Sendiki.’

“Bukan kali pertama Tedjo berinteraksi dengan banyak orang dan banyak kepentingan, bukan yang kedua dan juga yang ketiga, tapi Tedjo sudah sering kali melibatkan diri dalam hiruk pikuk dan carut marutnya. Mulai dari yang sederhana sampai yang berbirokrasi rumit. Semakin besar kejadiannya, semakin rumit pula birokrasinya bahkan semakin kompleks juga permasalahannya. Tidak hanya yang berurusan dengan SAR atau ER, tapi juga menyerempet korupsi dan suap karena uang yang berputar juga semakin besar. Tapi untungnya dia tipe orang yang beruratsyaraf kuat dan tegas. Mungkin karena masa lalunya yang kelam telah turut membangun karakternya itu.

“ ‘Tidak ada hal lain selain kemanusiaan yang lebih benar dalam setiap urusan ER,’ katanya. Siapapun dan apapun akan diterjangnya kalo menghalangi jalan yang sedang dilaluinya. Tidak peduli dia Jenderal atau Gubernur, kalau mereka masih saja menjalankan prosedur anehaneh akan dilabraknya. Tedjo sadar betul yang diperlukan dalam SAR adalah kecepatan dan ketepatan. Mereka yang mengalami bencana tidak bisa menunggu para pejabat untuk rapat atau menunggu komando dulu. Apalagi kalo hanya menghadapi manusiamanusia bermental artis yang inginnya mendapatkan popularitas.

“Sore itu mereka bergerak lagi. Dari Tamban bergerak sekitar 20an personil di darat, sementara di laut diturunkan empat perahu tongkang dengan personil masingmasing sekitar 4 atau 5 orang. Aku ikut tim darat. Ternyata di Sendiki masih ada beberapa orang yang sejak tadi pagi stand by di sana, sekarang bergerak balik ke Tamban dan berpapasan denganku di tengah jalan. Jarak yang ditempuh dari darat sekitar 2-3 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Tapi hingga menjelang gelap, belum ada tandatanda munculnya jasad korban. Perkiraan Tedjo berdasarkan pengalaman menangani korban tenggelam, diperlukan waktu sedikitnya semalam dua hari agar jasad dapat mengapung. Korban tenggelam di laut lebih lambat tenggelam tapi juga lebih lambat mengapung daripada korban tenggelam di air tawar. Hal itu disebabkan oleh berat jenis air laut yang lebih besar dari air tawar dan sifat garam yang lebih bisa mengawetkan jasad dari pada di air tawar. Dan juga pengaruh cuaca di laut yang lebih susah ditebak di bandingkan di danau atau waduk. Jasad akan mengambang kalau sudah mengalami pembusukan, gas dalam tubuhnyalah yang akan mengangkat ke permukaan.

“Gagal setelah dua hari, tidak membuat mereka menjadi surut nyali. Begitu pula dengan Tedjo, bahkan mungkin dua hari barulah sebuah awal karena menurut perkiraannya malam ini korban akan mengapung sehingga semuanya akan bergantung arus laut. Artinya, kalau dalam waktu satu hari lagi jasad korban masih belum bisa ditemukan, maka kemungkinan besar jasad akan terseret arus menuju perairan lepas dan membuat pencarian menjadi semakin sulit. Dan kalau dalam beberapa hari lagi masih belum juga ditemukan, maka pencarian korban akan dihentikan dan korban dinyatakan hilang.

“ ‘Mudahmudahan besok ada kemajuan, mas!’ katanya pada Kandi, kakak korban yang juga temanku. ‘Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Jadi semua itu kita kembalikan padaNya. Terutama mas dan keluarga, satu hal yang saya minta dan saya harapkan mas lakukan, berdoalah semoga adik mas segera diketemukan. Oke?!’

“Kandi masih bisa tersenyum dan hal itu sangat membuat Tedjo senang. Artinya, kakak korban masih bisa berpikir logis dan dapat menguasai diri. Biasanya tidak mudah bagi anggota keluarga untuk menguasai diri, kebanyakan dari mereka akan histeris dan menangis terus. Dan bila itu yang terjadi, lebih susah bagi Tedjo mengatasinya. Tapi aku tahu Kandi orang yang tegar dan pasrah pada kehendakNya walau dia sempat mengatakan padaku kalau dia masih belum bisa ikhlas.

“ ‘Satu lagi mas yang saya minta, sebagai kakak pasti tahu nama lengkap, tanggal lahir dan ciriciri khas adiknya, tolong nanti saya diberi catatannya, ya?!’ senyum Tedjo merekah menentramkan hati. “Lho kok diam saja? Masak nggak tahu adiknya. Kamu sayangkan sama adikmu?

Kandi cuma tersenyum sambil berkata, ‘Ya, Iya lah. Nanti aku buatkan.’

“ ‘Kalo kamu nggak tahu, kakak macam apa kamu, nggak bakal aku mau jadi adikmu atau kakakmu,’ Tedjo sengaja menggoda dengan gaya bicaranya yang tegas. Kandi lagilagi tersenyum, kali ini sambil menahan malu. ‘Ah, tadi cuman guyon. Jangan dianggap serius. Situasi seperti ini kita perlu rileks, jangan terlalu tegang. Tentu saja kita merasa sedih, tapi nggak boleh berlarutlarut bahkan sampe nggak bisa nguasai diri. Kesadaran itu perlu supaya kita bisa nemukan solusi terbaik. Benar, nggak?’

“Tedjo tertawa sambil menepuk punggung Kandi. Ya, begitulah Tedjo tahu apa yang mesti dilakukan.

“Seperti malam harinya di Posko Tenda ketika sedang diadakan evaluasi. Pak Tiono memimpin rapat itu, sementara Tedjo tidur sejak matahari terbenam tadi. Aku mendengarnya ngorok. Semua anggota tim SAR datang, berbagai kelompok dan organisasi, tentunya juga berbagai kepentingan seperti yang telah diperkirakan Tedjo. Awalnya diskusi berjalan lancar, begitu demokratis dan saling terbuka seperti yang diinginkan Pak Tiono. Meskipun Pak Tiono seorang prajurit militer, tapi dia telah menegaskan bahwa dalam situasi ini tidak ada komando dan doktrin militer yang boleh digunakan. Semuanya demi kemanusiaan. Mungkin karena Pak Tiono berusaha untuk bersikap terbuka, bagi beberapa orang dianggap sebagai cela kelemahan dan dari situlah timbul perdebatan mengenai siapa yang seharusnya menjadi koordinator SAR dan siapa yang berhak menentukan strategi SAR.

“Aku tertarik ikut evaluasi mereka, karena alasan tertentu. Aku ingin tahu bagaimana cara mereka mengatur SAR.

“ ‘Sebenarnya, siapa yang mengkoordinasikan SAR ini? Kalo kita amati kinerja selama di sini, terus terang saya melihat masih kacau dan belum terorganisir dengan baik. Karena itu saya inginkan kita tinjau ulang bentuk dan struktur organisasinya, kita tata kembali strategi yang akan kita pakai karena terus terang sekali lagi, saya masih bingung dengan bentuk SAR yang kita pakai tadi siang dan sore. Sekian dulu dari saya. Terima kasih,’ kata salah seorang peserta rapat yang berambut gondrong dan kebetulan duduk di sebelahku.

“Pak Tiono belum sempat menanggapi pendapat pertama, satu orang lagi mengangkat telunjuknya tanda ingin bicara. Pak Tiono yang berusaha supaya keterbukaan dan demokrasi tetap ditegakkan mau tak mau memberikan kesempatan bicara pada orang itu.

“ ‘Satu lagi yang harus kita perhatikan. Tentang masalah disiplin waktu dan konsekuen pada apa yang telah disepakati. Pada briefing tadi siang telah dihasilkan kesepakatan yang ternyata dilanggar oleh semua pihak pada sore harinya. Supaya hal ini jangan terjadi lagi.’

“Pak Tiono mencoba memberikan tanggapan yang memuaskan banyak pihak. Tapi memang permainan kepentingan mulai menguasai jalannya diskusi, sehingga tidak mudah bagi seorang sersan mariner sekalipun mengatasinya. Sampai pada tuntutan siapa yang sebenarnya mengkoordinasikan SAR ini, Pak Tiono tidak mampu lagi memenuhi keinginan semua pihak walaupun sebenarnya yang masih getol bersuara hanya dari satu pihak. Si rambut gondrong di sebelahku. Jalan buntu menghampiri diskusi malam itu. Dan solusi satusatunya adalah membangunkan Tedjo yang sejak semula telah menjalankan fungsi sebagai koordinator SAR keseluruhan.

“Wongso, adik kandung Tedjo yang juga ikut dalam SAR, bergegas membangunkan kakaknya yang tidur akibat kelelahan. Sementara itu diskusi masih terus berlangsung tanpa jalan keluar dan masih berputarputar saja pada permasalahan.

“Tak lama kemudian Tedjo masuk ke ruang rapat dan mengambil tempat di depan Pak Tiono. Mereka semua duduk melingkar, berhadaphadapan, sehingga Tedjo bisa melihat dengan jelas orangorang yang duduk di depannya. Seorang pemuda gondrong dengan kaos panjang berwarna oranye yang duduk di sebelahku terlihat oleh mata Tedjo sedang menerawang langitlangit. Mungkin Wongso sudah menceritakan apa yang terjadi. Tedjo mengamati pemuda itu dan mendengarkan jalannya percakapan yang mulai simpang siur kelompok per kelompok. Lalu dia pindah di samping Pak Tiono dan mulai berdiskusi dengannya. Beberapa saat kemudian barulah dia bersuara.

“ ‘Baik. Saya minta perhatian anda semua!’

“Suaranya keras dan tegas. Siapa saja yang mendengarnya langsung menghentikan aktivitas dan mencari sumber suara itu. Wajah Tedjo masih tampak lesu kurang tidur, tapi ekspresinya kuat dan keras karena uraturat syaraf di wajahnya sudah mulai melakukan kontraksi pada kulit pipi dan mulutnya.
“ ‘Terima kasih. Sebelum lanjut ke manamana, saya ingin tegaskan kita di sini untuk misi kemanusiaan. Membantu keluarga korban yang keempatnya masih belum ditemukan. Sekali lagi, MISI KEMANUSIAAN.’

“Tedjo sepertinya sengaja memberikan tekanan pada katakata terakhirnya dengan suara dikeraskan dan terkesan marah. Dan ternyata menimbulkan efek yang sungguh mujarab.

“ ‘Siapapun dari anda yang datang ke sini tidak untuk misi kemanusiaan, tapi karena ada misi lain untuk kepentingan lain, saya persilahkan meninggalkan ruangan ini saat ini juga!’

“Tedjo menatap mata setiap orang yang ada di ruangan itu. Kebanyakan tertunduk, ada juga yang menatap balik Tedjo, ada pula yang menatap langitlangit, lantai, tembok. Tapi semuanya sepakat untuk diam.

“ ‘Misi Kemanusiaan tidak mengenal pangkat dan jabatan, tidak mengenal kaya atau miskin, tidak mengenal agama, ras, suku, warna kulit. Semua sama dalam kemanusiaan. Tidak ada kelompok A, orang si B, mapala C, SAR X, semua itu hanya bendera yang harus dileburkan jadi satu di lapangan. Kita semua masih belajar, nggak etis kalo menyombongkan diri dan merasa yang lebih pintar dan lebih pengalaman. Jadi kalo ada yang merasa kelompoknya dirugikan, atau organisasinya tidak diberikan tempat, atau ada yang ingin mementingkan popularitas, saya persilahkan saat ini juga meninggalkan ruangan ini!’

“Tedjo lagilagi terdiam dan menatap mereka satu per satu. Tidak ada yang mendebat seperti sebelumnya. Juga tak ada yang keluar ruangan. Semua sepakat untuk diam.

“ ‘Ya. Saya marah. Saya muak dengan kepentingan di atas misi kemanusiaan, saya muak dengan kelakuan sok artis, karena di sini tidak pada tempatnya. Bangsa ini jadi bobrok karena mental semacam itu. Saya beritahu, selama di Aceh dan Nias, saya menerima setengah miliar. Semuanya saya serahkan ke PMI karena bukan untuk itu saya di sana. Juga bukan untuk medali penghargaan saya di sana. Tapi hanya satu tujuan, Kemanusiaan. Tidak ada Label untuk kemanusiaan kecuali kemanusiaan itu sendiri. Tidak ada imbalan yang boleh kita minta kecuali peri kemanusiaan itu sendiri. Kita bekerja sukarela. Jadi kalo kondisi seperti ini anda rasa tidak sesuai, silahkan tinggalkan ruangan ini dan belajarlah menjadi lebih baik lagi. Saya tanya dan tolong dijawab, ‘Apakah masih jadi masalah lagi?’

“Satu demi satu mulai bergerakgerak, berbisikbisik, saling pandang, mungkin juga mulai berpikir di benaknya bahwa aku harus mengatakan TIDAK supaya tidak memalukan. Maka semua orang walau tidak serempak dan tegas, mulai terdengar mengatakan “TIDAK”, dan sebenarnya masih banyak yang cuma diam saja.

“ ‘Baik. Terima kasih atas komitmen anda semua. Kalau begitu saya serahkan kembali ke Pak Tiono sebagai koordinator SAR besok pagi. Monggo Pak Tiono.’

“Pak Tiono mengawalinya dengan senyuman dan nada suaranya yang masih tetap seperti tadi, tegas tapi tidak memaksakan.

“ ‘Terima kasih, mas Tedjo. Tapi saya masih tetap ingin memimpin rapat ini dengan demokratis dan terbuka, jadi saya persilahkan kalo ada yang masih ngrundel dan merasa tidak bisa menerima pendapat yang diajukan mas Tedjo tadi. Silahkan. Monggo.’

“Pak Tiono juga orang yang punya segudang pengalaman tentang SAR, awal kariernya di SAR ketika terjadi musibah Tampomas 2. Sebagai seorang prajurit senior, tentu dia juga tahu artinya wibawa. Karenanya tidak boleh membenarkan begitu saja cara Tedjo menghadapi orangorang atau dengan sendirinya mengakui kelemahannya. Maka disodorkannya kembali keterbukaan yang dari tadi diusungnya dengan sangat elegan. Salah seorang yang sudah bapakbapak, berumur sekitar akhir 40an tahun angkat bicara.

“ ‘Sudahlah Pak Tiono, saya rasa semua sepakat dengan pendapat mas Tedjo tadi. Yang lebih penting adalah agenda besok pagi, supaya segera selesai dan dapat istirahat.’

” ‘Ya, Pak. Kita lanjutkan membahas tentang besok pagi saja,’ pendapat orang dari sisi seberang lainnya.

“Kalo seseorang telah berpendapat dan ternyata pendapatnya tidak didukung oleh mayoritas, maka ada dua pilihan baginya.. tetap mempertahankan pendapatnya sampai diperoleh kompromi atau berbalik ikut pendapat mayoritas dengan konsekuensi mencari pembenaran. Yang pertama adalah tipe manusia berurat syaraf kuat, yang tidak menyerah pada arus yang berlawanan dan tetap memegang prinsip yang diyakininya benar. Sedangkan tipe kedua adalah milik orang munafik, yang berusaha mengikuti arus dan tidak memiliki prinsip. Tipe kedua bahkan bisa bekembang menjadi manusia bunglon yang sengaja mencari perhatian, sengaja melemparkan kontroversi lalu dengan cerdik membaca arah suara mayoritas untuk diikuti. Dan seringkali mereka mencari aman berlindung pada pembenaran walau bertolakbelakang dengan pendapatnya semula. Mereka cerdik mencari cela dan melakukan pembenaran. Mereka punya strategi brilian yang sepertinya berjalan secara alami. Tapi tetap saja mereka Munafik, Bunglon dan Pengecut.

“Manusia bunglon yang duduk di sebelahku itu mengangkat tangan untuk bicara.

“ ‘Sebaiknya memang kita sudahi saja permasalahan tadi dan mari kita bahas aktivitas besok pagi. Tapi sebelumnya saya ingin meluruskan sedikit bahwa sebenarnya maksud saya tadi itu untuk lebih mensolitkan barisan kita. Bukan untuk maksud yang lainnya. Jadi, saya rasa telah terjadi kesalahpahaman dan syukurlah semua sudah dapat teratasi.’

“Tapi sepertinya Tedjo sudah hapal dengan tipe orang macam itu. Dia cuma tersenyum dan mungkin membatin ‘belum saatnya orang macam itu berubah dan pasti saatnya akan datang, entah saat itu sudah terlambat atau belum untuk menjadi lebih baik dan menemukan kemanusiaan dalam dirinya.’

Aku berhenti bercerita untuk meneguk es tehku. Tak terasa mulutku sampai kering, apalagi udara malam itu juga terasa panas. Ken masih memandangku dengan gelisah, dari raut wajahnya aku tahu kalau dia begitu tertarik pada Tedjo dan SAR. Tapi inti ceritaku sebenarnya sudah aku ceritakan semua. Tinggal beberapa sekuel ringan yang tak begitu berhubungan dengan sisi kemanusiaan yang sebenarnya sedang aku usung.

“Sudah habis, Ken. Begitulah kisahnya. Sedetaildetailnya. Bagaimana pendapatmu?”

“Cukup menarik. Dia telah berubah dari manusia berperikemanusiaan bobrok menjadi manusia ber.. apa istilahmu tadi.. berurat syaraf kuat? Ah, tapi aku ingin mendengar akhir kisah tentang SAR itu. Bagaimana akhirnya, mereka berhasil menemukan 4 korban itukan?”

“Memangnya beberapa hari terakhir ini kamu tinggal di mana? Di hutan dan tidak nonton TV atau membaca koran?”

“Ah, kamu kan tahu kalau aku sibuk di sekolah. Pagi sampai sore ngajar, menunaikan tugas negara. Malamnya masih harus persiapan untuk esok,” kata Ken.

“Lha terus sekarang, kenapa masih buangbuang waktu ke sini. Sudah, sana pulang,” kataku menggoda Ken.

“Hehehe... kalau ngobrol denganmu itu perkara lain. Pasti akan kusisikan waktu untuk itu.”

Kami tertawa bareng.

“Esoknya persis seperti perkiraan Tedjo malam itu. jasad sudah mengapung dan sangat bergantung pada arus yang membawanya. Satu jasad ditemukan beberapa menit setelah Tedjo meninggalkan daratan. Sepertinya yang satu ini terbawa arus sampai sekitar 2 kilometer dari tempat kejadian, sekitar setengah kilometer di depan pantai Tamban. Dua lainnya ditemukan hampir bersamaan di pantai yang berkarangkarang. Adik Kandi, temanku itu salah satunya. Sedangkan satunya lagi ditemukan di sisi luar pantai Sendiki dan kalau terlambat beberapa saat saja sudah akan terbawa arus ke perairan lepas.”

Bibirku ternyata cepat mengering. Aku minum lagi teh manis yang sudah habis esnya. Dan segera mengakhiri percakapan kami malam itu sebelum air teh di dalam gelasku dan gelas Ken habis yang entah jadi apa di dalam perut kami. Ken sebenarnya masih ingin terus ngobrol denganku malam itu. Tapi aku masih merasa lelah karena hampir 3 malam tak tidur dan tenaga terkuras habis karena peristiwa Tamban-Sendiki itu. Apalagi sehari sebelumnya aku bersepeda pancal dari Surabaya ke Malang dan offroad di kebun teh Lawang sampai Singosari.

“Ken, kapankapan kita lanjutkan lagi ceritanya. Aku masih punya cerita tentang bersepeda offroad di kebun teh Lawang. Pasti kamu akan tertarik. Tapi sekarang pulanglah, aku sudah ngantuk dan masih capek.”
“Oke. Sabtu malam aku ke sini lagi menagih janjimu. Awas jangan menghilang lagi.”

Ken masih bujang dan belum memiliki pacar walau umurnya sudah 27 tahun. Dan tiap sabtu malam dia memilih menghabiskan waktunya denganku.

“Ken, kalau tiap sabtu malam kamu ke sini, terus kapan kamu akan cari pacar?” aku menggodanya.

“Hehehe, iya ya.. kamu mau jadi pacarku?”

Aku menendangnya keluar pagar dan kami tertawa bareng. Dasar orang gila. Nggak pernah sedikitpun terlihat susah. Ya, itulah Ken Aria. Kalau terlihat susah apalagi depresi bukan Ken namanya.

santopay
bulan oktober ketika hari sabtu menjadi awalnya
























Tedjo
mencari sisi kemanusiaan yang semakin susah ditemukan di jaman yang materialistis dan egois ini



sebuah cerpen berlatarbelakang kisah nyata


2005
























Tedjo

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home