Sunday, March 26, 2006

Pengakuan orang gila
santopay


Tadi sore barusaja turun hujan. Angin yang berhembus kencang dari selasela jendela kamar terasa segar dari balik punggungku. Kuhisap rokok di tangan dan asapnya langsung tercerai berai. Sekali lagi kutiupkan dan sejenak kuamati berputar di depan wajah kemudian langsung hilang. Seperti ideide dalam pikiranku yang mudah sekali menghilang begitu saja. Malam ini datang bagai ombak yang bergelombang menerjang pantai, datang bergelombanggelombang tanpa diminta, dan esok paginya sudah menghilang. Bahkan akupun mulai ragu, benarkah tadi malam aku berpikir untuk segera berangkat ke banda setelah tsunami memporak-porandakannya? Seperti biasanya, pagi hari aku terbangun seakan telah menjadi manusia baru, dengan pikiran baru dan ingatan baru. Ideide semalam sepertinya hanya menjadi penghias menjelang tidur, beruntung kalau berakhir menjadi mimpi, bahkan tadi malam pun tak ada satu mimpi yang bersarang dalam tidurku.

Keraguraguan selalu saja muncul mengiringi kembalinya jiwa dari tidur yang terasa pendek. ‘Semua itu tidak normal’, aku menolak dan berdebat sendiri. ‘Aku bisa gila kalau terus terombangambing. Harus melakukan sesuatu. Tinggal pilih saja salah satu, jalankan dan jangan banyak pertimbangan.’

Otakku seperti telah dibersihkan, untuk sadar dan konsentrasi pun sudah tak mampu. Aku berjalan dengan langkah mantap tapi sebenarnya pikiranku kosong. Perdebatan itu hanya bertahan sebentar saja. Bahkan sebenarnya sangat singkat sebelum akhirnya gagal menyadarkanku. Semua yang kulakukan terlihat wajar, mungkin karena rutinitas yang sudah lama aku jalani. Sehingga tanpa bisa berpikir jernihpun aku bisa melakukannya dengan wajar. Mengendarai sepeda motor ke kampus dengan wajar. Masuk laboratorium juga dengan wajar. Bahkan bertegur sapa dan sekedar basa basi singkat dengan kolega juga bisa kulakukan dengan wajar. Ini semua benarbenar gila. Manusia telah menjadi robot bernyawa karena rutinitasnya, dan karenanya manusia telah kehilangan kemanusiaannya. Dan aku begitu membenci diriku karena telah ikut menjadi gila.

Aku, orang gila yang membenci dirinya sendiri, yang biasa dipanggil Pak hanya karena pekerjaannya, sebenarnya tidak pantas mendapat kehormatan itu. Bahkan dia juga telah membenci pekerjaannya yang memiliki andil begitu besar dalam kegilaannya. Tapi semua itu terlihat wajar. Seperti pakaian serba hitam yang biasa dipakainya. Seperti rambut gondrong yang membuat sebagian koleganya sempat ketakutan begitu melihatnya masuk ruangan. Seperti halnya tulisantulisannya, puisipuisinya dan ceritaceritanya yang menjadi saksi sekaligus bukti kegilaannya. Tapi anehnya dia masih digemari, bahkan dari beritaberita yang didengarnya ternyata banyak cewek yang gandrung padanya, gila... ngilani. Memang dia masih muda dan katanya juga menarik, tapi dia sendiri mengakui kalau dirinya sudah gila, tetap saja dia tidak menjadi seorang penyendiri karena tak punya teman.

Dan, kalau malam sudah mulai datang menjelang, berangsurangsur kegilaannya beranjak menjauh, tapi sering kali kegilaan itu tetap saja mengiringinya sampai pergi tertidur. Seperti halnya malam ini. Dia teringat cerita seorang teman yang berada di banda. Di antara manusiamanusia kesusahan masih saja ada manusiamanusia gila yang memamerkan kekuasaannya. Mereka dengan seenaknya menarik uang yang katanya sebagai bea masuk ke lokasi bencana. Mereka yang berkuasa dengan seenaknya main pukul tanpa peringatan, bak buk, dan korban pun harus mengalami jahitan. Mereka yang tanpa sopan santun main bentak dan tendang hanya karena seorang kakek ingin berkeluh kesah akibat penderitaan yang dialaminya. Bahkan hukum telah dibuat dan diatur sekehendak hati mereka. Keluh kesah menjadi salah satu pelanggaran berat dan harus mendapat hukuman berat. Mereka yang karena penderitaan dan keputusasaannya tega membunuh hanya untuk mendapat pertolongan. Mereka yang karena penderitaannya nekat menculik dokter agar mendapat pengobatan. Orangorangpun terdiam. Akupun terdiam. Manusiamanusia juga terdiam. Semuanya telah menjadi gila. Dunia ikutikutan gila.
Ada hal yang lebih gila lagi. Mereka yang senang disebutsebut orangorang beragama, masih lebih mengutamakan kesenangan mereka daripada kemanusiaan mereka. Ada orang yang sanak saudaranya bahkan mungkin dirinya sendiri terancam kematian tapi masih banyak pertimbangan hanya karena alasan kafir dan non-kafir. Ada orangorang yang mau membantu tapi dibalik kemuliaannya itu tersimpan niatniat mencari penganut baru untuk memperbanyak barisan agamanya. Lalu apa artinya beragama dan senang disebutsebut orang beragama kalau kemanusiaan menjadi tumbalnya? Benarbenar lebih gila. Membuat dunia menjadi semakin gila. Tapi aku masih tetap saja ikut menjadi gila dengan tidak berbuat apaapa.

Sempat aku hampir tersadar dari kegilaan itu saat seorang temanku yang menjadi relawan mengirim cerita dan keluh kesahnya. Baru kusadari ternyata masih ada orangorang yang teguh pada prinsipya, memiliki semangat tinggi dan masih menjunjung kemanusiaan di atas perbedaanperbedaan. Orangorang itu tetap bertahan meskipun mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan. Mereka bahkan tidak mendapatkan bayaran dari apa yang mereka lakukan, tidak juga kredit poin untuk peningkatan karirnya. Mereka hanya ingin berbuat sesuatu sematamata karena tergerak ingin membantu sesamanya. Merekamereka inilah orangorang yang tidak ikut menjadi gila. Merekamereka inilah yang berharap membuat dunia ikut bersamanya, bukan dirinya yang ikut dalam kegilaan dunia, atau membuat dunia gila baru. Tapi hanya segelintir orangorang seperti mereka. Perlu urat syaraf kuat untuk mampu bertahan supaya tidak ikut gila. Dan aku tidak mempunyai urat syaraf seperti itu. Sampai sekarangpun aku masih diam dan menikmati keenakan dunia gila ini. Karenanya aku membenci diriku. Sebatang rokok kembali kunyalakan dan segera dapat kulihat asapnya menghilang tertiup angin. Begitu pula kewarasanku.

beginilah akhirnya
hanya terduduk terdiam dan membisu
tanpa berbuat apaapa
segera saja kau cabut jiwaku tuhanku
atau kembalikan keberanianku
sebelum semuanya terlalu jauh
dan membuatMu semakin malu

berhasil kutulis diselasela kegilaanku
surabaya, tengah malam, 17-18 januari 2005
santopay

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home