Sunday, March 26, 2006

Ingin Pintar Kok Mahal
Tanya kenapa?


Orangorang Indonesia memang punya selera humor yang hebat… lihat saja slogan iklan di atas, maknanya... dalem banget. Di sana digambarkan seorang lelaki muda menyeret tas berisi uang receh keemasan dan berhenti di depan mesin yang menyediakan menu topi sarjana dengan bandrolnya masingmasing. Lihat saja ekspresi wajahnya ketika mendapatkan topi kesarjanaan, bingung bin bingung! Mungkin kita juga akan seperti itu. untuk apa topi itu.. mau diapakan topi itu.. what next.. untuk mendapatkannya saja harus barter dengan semua uangnya. Cara memegang pun bak memegang mahkota berharga, apakah memang sebegitu berharganya? Jumlah pengangguran yang semakin meningkat sudah menjawabnya.

Pendidikan memang sudah menjadi barang mahal. Hanya anak orang kaya yang bisa menikmati pendidikan di sekolah bagus.

‘Sekolah bagus?’ tanya Drs. Arif. ‘Bagus apanya!’ kritiknya dengan sinis.

‘Kata orang nih.. rego gowo rupo!’ Pak De Dul coba menenangkan.

‘Tapi yang berlaku sekarang ini yang benar itu ono rego nggak ono rupane!”

Mungkin anda penggemar AFI (Akademi Fantasi Indosiar) dan kalo iya anda pasti nggak asing dengan Drs. Arif-nya almarhum Harry Rusli. Ya, Drs. Arif itu memang saya normalisasikan dari sana. Pendidikan di indonesia sekarang ini ibaratnya AFI (Akademi Fantasi Indonesia), anda setuju? Terserah anda! Bagi saya pendidikan bagi sebagian besar masyarakat indonesia saat ini merupakan Fantasi. Kenapa pendidikan menjadi salah satu fantasi paling populer di indonesia? Karena jumlah penduduk miskin sudah semakin membengkak dan membuat indonesia tergolong negara termiskin di dunia. Tapi anehnya.. lagilagi indonesia ini gudangnya selera humor.. jumlah penduduk kaya juga semakin bertambah. Kenapa bisa begitu?

Drs. Arif menjawab, ‘Lha wong anggota dewannya aja minta kenaikan pendapatan bulan sampe 100 persen kok. Belum lagi yang korupsi dan orangorang pinter keblinger yang membobol pinjaman bank trus kabur.’

Pak De Dul kali ini ikutikutan sinis, ‘Yang kaya semakin kaya yang melarat tambah melarat.’

Dengan kondisi kemiskinan yang menjerat, sementara untuk bisa sekolah harus mengeluarkan biaya pendidikan yang sudah mencapai jutaan rupiah, bagaimana caranya anak tukang becak memperoleh pendidikan yang bagus? Bagaimana caranya anak buruh tani ingin pintar? Bagaimana wong cilik bisa ikut memiliki kesempatan memperbaiki nasib? Nasib!

‘Lha pendidikan saja belum terurus dengan baik, masih banyak masyarakat belum bisa mendapat pendidikan yang layak, mengapa anggota dewan yang terhormat ngotot mengajukan kenaikan gaji mereka? Opo nggak keblinger?’ Drs. Arif protes. ‘Bukan tempatnya merekamereka itu memperbaiki nasibnya di sana!’

‘Tanya kenapa?’

Hahaha... dasar wong usil. Lha wong cuma slogan pariwara aja dianggap serius.


oppice
juli ‘05
santopay

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home