Tuesday, February 24, 2004

menanti Bintang menari
santopay


9 pebruari ‘04
Di sini malam ini, angin berhembus
merasuk ke dalam relung tubuh

Di sini sendiri, dan menanti
bintang menari

Kulihat, bayangbayang menggeliat
jejak kaki siang tadi, terurai kembali
mengusik penat matahari menyengat
dia seperti lebah, juga kunangkunang senja
yang tak pernah resah walau
mendung memeluk raga semesta

Berhentilah berteriak jiwa!
Tak ada lagi riak tersisa!
Bagi rasa yang tak pernah bertemu asa
hanya hampa yang tersisa

dan jika sampah menjadi berarti
lalu untuk siapa cinta tercipta?

mengapa juga kaki mesti melangkah?
bukankah lebih baik berdiam diri
biar bintang saja yang menari

Seekor lebah hanya bisa menyengat sekali, lalu mati. Tinggal rasa yang tersisa
Dan manusia hanya terlahir sekali, lalu mati. Tinggal kenangan yang tersisa
kalaupun itu ada.

Mungkin cinta manusia, sengatan lebah. Cuma memberi derita sebelum meregang nyawa. Tersenyumlah, kalau itu berarti. Tapi, tolong tanyakan dulu padaNya
benarkah cinta manusia sengatan lebah? atau bahkan lebah reinkarnasi manusia?

Sekarang tersenyumlah geli
aku tak peduli
Seperti kunangkunang senja
aku terus berlari menembus dinding
tradisi. Tak pernah resah meski
mendung memeluk raga semesta

sendiri kini aku berlari, tak ingin kembali
lelah menanti bintang menari



10 Pebruari ‘04
Pagi tadi aku teringat kembali.

Awal Pebruari, terasa sangat indah setelah kehadirannya. Ternyata logika bisa kalah pada rasa. Virus cinta melanda. Begitu pula sengatan matahari, takkan pernah menyerah pada pelukan mega. Semuanya tercipta indah hingga membuat jiwa lupa pada raga.

Bintang kan terus menari.

“Apa yang sedang mengganggu relung jiwamu, kasihku?”

Bintang tak sanggup memandang kunangkunang murung. Bintang seharusnya menari, dan terus menari. Dan kunangkunang terus berlari.

“Tak ada lagi ruang jiwa untuk murung, kasihku. Semua telah terisi canda dan tawa. Serasa bunga bermekaran dengan pesona warna di setiap penjuru kalbu. Harum baunya terbebas lepas hembusan napas. Tapi aku resah.”

“Mengapa engkau mesti resah, kasihku?”

“Gerobak pengais sampah terisi penuh permata. Tak ada lagi tempat untuk sampah. Aku resah, karena tak ada lagi tempat untuk gelisah, tak ada lagi ruang untuk resah.”

Bintang kan terus menari. Walau resah. Gelisah. Melanda jiwa. Logika telah kalah pada rasa. Hingga saatnya berpisah. Tak ada lagi tempat untuk gelisah. Tak ada lagi ruang untuk resah. Semua telah terisi canda dan tawa. Begitulah bila virus cinta melanda.

Jejak kaki terurai kembali. Jejak kaki siang tadi. Kunangkunang berkubang pada jelaga, menanti bintang menari. Mencari rasa bertemu asa. Tapi tetap siasia.

Bintang tidak pergi, kasihku. Kala siang datang, bintang menjelma matahari. Kala mega menghadang malam, bintang tetap menari.




11 Pebruari ‘04
Begitulah ceritaku.

Pohon tegak siang hari, berarak bersama angin malam ini. Derunya menyibak noda dan kerak di dalam benak. Serak serunya berkumandang sejenak. Aku tahu. Ada yang sedang beranjak.

Kunangkungan masih terus berlari dan terus berlari. Menjejak sesekali lalu terbang lagi. Jelaga siang tadi berganti kelam malam ini. Indah ... tapi sunyi telah melanda. Tak ada lagi bintang menari. Tak lagi ada rasa bertemu asa.

terpaksa kutatap rembulan
di atas secuil harapan,
dan bertahan ruang sendiriku,
lalu beradu
ada teriakanteriakan pilu
jadi satu detak jantungku

aku sudah jenuh dengan resah

tinggalkan saja di sana
membatu sampai biru, bahkan kaku
lalu diam diri sendiri, atau berlari
sejauh bintang menari
sampai kausadari
sunyi hanya sebatas imagi

lalu setetes embun tibatiba turun
memberi makna
kepada cahaya rembulan

Begitulah kunangkunang, dia tak pernah berhenti menjaga cinta walau riak gelombang menghadang. Dia memberi arti. Bagi jiwa yang bermimpi, hidup takkan pernah berhenti. Dia memberi makna. Bagi jiwa yang percaya, harapan takkan pernah punah.

Kunangkunang terus berlari. Dan bintang masih menari. Aku tertidur, lalu bermimpi. Tentang setetes embun yang tibatiba turun, memberi makna kepada cahaya rembulan.




13 pebruari ‘04
Kemarin aku terbaring tak berdaya, hingga kurasa tegak ragaku di tanah. Ada kunangkunang berputar di atas kepala, kukira malaikat. Setelah lama kulihat ternyata cuma lalat, bukan kunangkunang atau malaikat. Kesal kutampar udara sampai terbelah, “Dasar hewan laknat, enyahlah!”

Dan pagi tadi, kembali kulihat mentari tegak bersinar penuh percaya diri. Sementara aku masih terdampar di ruangku sendiri. Tembok kotak itu memenjaraku, memisahkanku dan mengisolasiku dari dunia. Aku lelah dan ingin keluar. Guratguratnya sampai membekas di wajahku, entah sudah berapa lama. Mungkin sehari, atau dua hari atau bahkan berharihari. Entahlah. Terakhir yang kuingat, aku tertidur lalu bermimpi tentang setetes embun dan cahaya rembulan.

Di ujung ruangku, ada sosok raga terbuat dari batu. Wajahnya mirip aku, tapi bukan aku. Ada goresan di sekujur tubuh dan daging terkelupas di siku, kuraba diriku ternyata itu bukan aku. Aku bersyukur itu bukan aku. Kulit wajahnya gelap membiru, dan pasti itu bukan aku. Lalu ... tubuh itu?

Aku ragu. Kupegang tubuh itu, tapi diam terpaku. Kupanggil, diam membisu. Aku ragu, maka kutinggalkan dia di situ.
Dan sekarang, kaki ini melangkah bagai melayang, ringan tanpa beban. Tentu saja aku jadi heran. Ke mana perginya gravitasi? setelah tetes embun yang tibatiba turun. Semua mengambang, dan diam. Tetes air keran membentuk bulatan sebelum terjerembab ke tanah, tapi takkan pernah. Daun berguguran terusik tiupan angin, berakhir bagai lukisan tak jadi. Mereka mengambang. Atau waktu sedang membangkang. Tapi pada siapa? dan Kenapa? Ada yang janggal.

Tibatiba kulihat seberkas cahaya, lambat lajunya terpancar merah cakrawala. Tapi tak lama, lalu melesat menghantam tembok ruangku. Seketika ada yang menyerbu. Deru angin mendesing bagai peluru, dedaunan mengayun seperti sembilu dan gemericik air menyiksa telingaku. Aku terajam dan tak mampu melawan. Bahkan tak sempat sekedar mata terpejam.

Sampai habis ragaku dikoyak semestaku.

Aku berseru,

‘Beginilah akhirku! Dari debu
menjadi abu lalu membatu.’

Kutemukan diriku terbang meninggalkan kunangkunang menyongsong rembulan. Lalu ada bintang menari di sampingku.
‘Mimpi memang aneh.’
‘Hiduplah yang aneh.’ Seruku pada bintang yang menari.
‘Tapi kamu sudah mati.’ Dia berkata lagi.
‘Dan kubawa keanehan itu mati.’

Mendadak semua berganti.

Kurasakan mulutku megapmegap menangkap udara pengap ruangku. Keringat bercucuran, karena berkejaran jantungku. Aku terjaga.

Monday, February 16, 2004

GERBONG EKONOMI
santopay



Dan aku sekarang sudah berada di atas kereta besi menuju ibu kota. Tempat para pemimpin bangsa yang menjadi impianku, impian anak desa yang ingin maju. Di tempat tinggalku, sudah banyak cerita yang kudengar, sudah banyak gambar wajah gedung megah yang kupandang nanar, dan sudah banyak impian bertengger dalam bola mata yang berbinar.

Akhirnya aku mendapatkan tempat tinggal sementaraku di deretan gerbong paling belakang. Dua kali aku tersingkir, dua kali aku terpaksa beranjak pergi, terusir oleh teman-temanku yang senasib seperjalanan. Orang-orang pinggir yang ingin mendapatkan kenyamanan selagi ada kesempatan. Sejak awal sudah digariskan bahwa tempat tinggalku gerbong delapan nomer 11A. Tapi apa daya karena di sana sudah ada ibu-ibu dengan anak gadisnya yang tidak mendapat jatah.

Sebenarnya ingin kurebut kembali. Tempat tinggalku itu sudah kubeli. Di kursi itu seharusnya aku bisa mulai bermimpi. Aku punya bukti-bukti otentik, dan bila mereka tak mau beranjak pergi aku bisa membuatnya terusir. Tapi mereka sudah akan beranjak pergi, sebelum sempat aku menyuruh pergi. Aku melihat tempat tinggal itu yang memang milikku. Dan aku merasakan tidak enaknya tersingkir, walau sebenarnya mereka pantas terusir. Dan akhirnya aku memilih tersingkir sekali lagi.

Di sinilah aku sekarang berada, di deretan gerbong paling belakang. Tempat para penyusup malam dan tempat orang-orang terbuang. Di sinilah sekarang aku bermimpi, di atas gerbong ekonomi.

***

“Bang, jualan apa aja!” Seorang bocah remaja yang tadi meringkuk di selter teras WC memulai obrolannya. Tadinya dia kukira salah seorang penumpang yang terbuang. Sama seperti lelaki yang menggelar koran bekas di samping tempat tinggalku. Sama seperti seorang lelaki tambun yang tak memiliki karcis dan terpaksa berurusan dengan polisi. Tapi ternyata dia salah seorang anggota penyusup malam, yang menjajakan barang dagangan atau jasa sekadarnya. Bibir mulutnya cukup menonjol dan kedua bola matanya tidak saling sinkron satu sama lain.

“Kacang rebus. Enak lho. Mau coba?” Seorang lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya. Tubuh kurus kering dengan topi caping yang bertengger miring mencoba menangkring senyum.

“Bolehlah. Serebu aja.” Beberapa lembaran uang ratusan dan seribuan lecek tergenggam erat di tangannya. Dia menghitung. Merapikan selembar demi selembar, lalu memasukkannya lagi ke dalam saku celana kumalnya. “Ini aja, ya bang. Ada kembalinyakan?! Sekalian tuker, kan juga enak buat abang. Lebih gampang menyimpannya.”

“Wah, banyak duit ya?” Tangan hitam legam penuh guratan urat darah menyodorkan kertas koran membungkus kacang rebus. “Nih empat rebu!”

“Enak bang.” Bocah remaja kelaparan memamah kacang rebus penuh penghayatan. “Bang! Bang! Jualan kopi kan?”

Seorang lelaki berkumis tebal menoleh.

“Buatin satu dong. Berapaan?” Si bocah remaja memasukkan telunjuknya ke dalam mulut dan memutar-mutarnya melepaskan remah-remah kacang yang menempel di dinding mulutnya.

“Dua Rebu!” Lelaki berkumis menggunting bungkus kopi lengkap dengan gula dan susu. Dan memasukkan isinya ke dalam gelas plastik. “Panas atau anget?”

“Panas aja lebih enak. Nih uangnya.” Si bocah remaja menyodorkan dua lembaran uang leceknya. “Bang, mau juga? Aku beliin. Enak lho.” Lelaki tua penjaja kacang rebus cuma bengong.

“Satu lagi. Buat temanku ini.”

Seorang bocah remaja, yang dari sorot matanya sepintas kusangka pembuat onar, pemilik sorot mata maling dan tak kenal kebaikan, ternyata telah membuatku tersenyum kecewa. Penilaianku salah. Tidak sesuai dengan harapanku. Beberapa kali sorot mata itu beradu dengan milikku dan walau aku lelaki muda yang berbadan tegap, tetap saja ada rasa merinding. Mungkin dia merasakan penilaianku yang jelek tentangnya.

“Boleh aku saran, bang.” Si bocah memulai lagi obrolannya dengan lelaki tua penjaja kacang. “Jualan kacang goreng aja. Bisa tahan lebih lama dan untungnya nggak beda dengan kacang rebus. Kalau kacang rebuskan bisa basi. Sehari aja rasanya udah nggak enak. Kalau udah begitu Abang rugi jadinya.”

“Biasanya dua hari kacangku udah habis. Kalau menyimpannya bener, kacang rebus bisa tahan sampe dua-tiga hari kok.”

“Tapi rasanya udah beda.” Si bocah memberikan alasannya. “Coba juga dagangan yang lain, jangan cuma kacang rebus. Ditambah jualan kacang bawang, mungkin juga bisa kacang telor atau apa aja yang nggak mudah basi. Pokoknya yang awet dan bisa nambah untunglah bang.”

Si bocah terus saja ngomong dan mendengar dan ngomong lagi. Di sinilah tempat mereka berada, di atas gerbong ekonomi, di samping tempat tinggalku. Tempat orang-orang terbuang dan penyusup malam.

***

Sementara kereta besi semakin mendekati ibu kota. Cadar malam yang gelap sebentar lagi akan tersingkap mentari pagi. Aku masih berada di gerbong ekonomi, tempat orang-orang terbuang dan penyusup malam. Aku masih mencoba menggapai mimpi yang kubawa serta dari desaku. Cerita tentang para pemimpin bangsa, gambar-gambar gedung megah yang kupandang nanar dan impian yang bertengger dalam sorot mata yang berbinar, masih menghiasi malam bercadar yang sedang kulalui.

Dulu sempat aku bermimpi menjadi seorang carik, mantri atau bahkan bupati. Jabatan yang waktu itu aku anggap sangat mentereng. Seorang carik desa bisa membangun rumah megah dan menyekolahkan Bony, teman sekelas akangku yang pindah sekolah ke kota dan tidak lagi dipanggil Boniman, setelah berhasil membantu warga dalam penjualan tanah. Seorang mantri desa yang memiliki dua orang istri karena dianggap sakti setelah berhasil menghentikan wabah disentri hanya dengan meminumkan air masakannya. Dan seorang bupati yang setiap hari naik mercy.

Tapi sekarang aku tidak lagi bermimpi menjadi carik, mantri atau bahkan bupati. Jabatan itu sekarang sudah tidak lagi mentereng, setelah Bony pulang ke kampung halaman. Setelah pak carik merasa begitu bangga atas keberhasilan Bony. Setelah Rima, kembang desa yang menjadi pujaan lelaki, lebih memilih Bony ketimbang pak mantri. Setelah mercy pak bupati terlihat kuno bila dibandingkan mercynya Bony.

Dan sekarang di sinilah aku berada. Di atas kereta besi, di dalam gerbong ekonomi, seperti Bony enam tahun lalu. Menuju ibu kota dengan membawa gambar-gambar gedung megah yang kupandang nanar dan impian yang bertengger dalam sorot mata yang berbinar. Setelah mendengar cerita Bony yang berhasil menjadi ketua partai politik dan menjadi anggota dewan legeslatif.

***

“Permisi bapak-bapak, ibu-ibu! Biar saya bersihkan dulu. Permisi bang!” Seorang lelaki muda berbadan kurus dan berjambang mengais-ngais sampah yang berserakan di lantai gerbong tempat tinggalku. Sepotong sapu pendek, dengan tangkai yang sengaja dipotong pendek, bergerak-gerak membuat sampah sisa makanan, kulit kacang, kulit salak, plastik bungkus tahu dan abu rokok di bawahku tambah berserakkan tak menentu. Tangannya menengadahkan kantong plastik yang langsung bisa kuterka berisi uang receh, diiringi pandangan memaksa ke setiap penumpang yang terbuang. “Uang kebersihannya, bang. Seiklasnya saja. Ayo, ayo demi kebersihan. Cepek-cepek juga nggak pa-pa, apalagi cemban.”

Si bocah remaja yang duduk di deretan paling belakang mencibir tingkah pola lelaki muda penjaga kebersihan.

“Nih. Ini namanya kerja keras. Bener-bener kerja. Kagak kayak kamu. Encrek ... encrek ... encrek ...! Udah bunyinya kagak karuan, suara parau lagi. Nggak bermutu.” Lelaki muda penjaga kebersihan bersandar di dinding WC sibuk menghitung pendapatannya hari ini.

“Apanya yang bermutu. Cuma pake sapu bubulan begitu kok bermutu. Lihat tuh, pakean aja yang perlente tapi kantong tetep kere.” Si bocah remaja terpancing emosinya.

“Tengik!” Lelaki muda penjaga kebersihan juga emosi. “Coba mana peralatanmu. Ayo, coba tunjukkan.” Tangannya mendorong kepala si bocah dengan kasar, lalu merampas kaleng yang tersimpan di saku si bocah.

“Ini. He ... he ... Cuma ini yang kamu gunakan. Kamu kagak bisa cari uang pake ini.” Kaleng berisi pasir milik si bocah di lemparkannya dengan asal dan menimbulkan bunyi berkelontang. Lalu dia ngeloyor pergi.

“Bajingan tetep aja jadi bajingan. Nggak pernah bisa sadar. Kamu kira aku takut apa! Dasar pengemis kere, lu!” Si bocah berteriak kesal, tapi si lelaki tidak menghiraukan. Sepatu pantofelnya berkeresek di lantai gerbong mengikuti langkah kakinya ngeloyor pergi.

“Gini-gini aku cari uang dengan halal. Kagak mau maling atau meras kayak kamu.” Sorot matanya yang membuatku merinding tadi sekarang bertambah garang. Tubuhnya kecil, tapi nyalinya tidak surut menghadapi tipe manusia apapun. Mungkin karena kehidupan keras yang sudah menempanya, telah membentuk mental baja. Begitu pikirku.

“Bang. Aku nggak suka cari masalah. Tapi kalo diganggu, aku akan lawan dia.” Katanya pada lelaki tua penjual kacang. “Aku lebih suka cari teman. Lebih enak berteman. Bisa hidup damai. Cari musuh hanya dapet penyakit. Betul nggak.”

Si lelaki tua cuma diam saja. Dan aku mendengar omelannya karena tertarik. Tadinya aku juga menyangka dia menggunakan lem kaleng itu untuk mabuk, seperti yang pernah aku lihat di tv, nge-fly dengan menghirup uap lem kaleng. Tapi ternyata kaleng itu berisi butiran halus untuk ngamen.

“Ditangkep polisi nggak enak bang. Digebukin melulu tiap harinya. Badan bisa jadi bengep semua. Mending kalo langsung mati, enak. Tapi kalo masih hidup, bisa tambah susah. Udah nggak bisa cari duit, malah harus beli obat. Makanya aku suka berteman dengan orang kayak abang ini. Kagak bermasalah. Kalau sama orang nggak bener kayak dia itu tuh, bisa berabe bang. Hidup jadi susah.”

Si bocah merasa dipandangi. Dia melihatku dan membuat degup jantungku berdesir lebih cepat.

“Betul nggak bang?” tanyanya. Aku cuma tersenyum tanpa mengeluarkan suara.

“Abang nggak usah takut ama aku. Aku nggak ngapa-ngapa.” Si bocah berdiri dan berjalan ke arah tempat tinggalku. “Pinjem korek dong bang.”

Aku ulurkan korek dan bungkus rokok milikku.

“Koreknya aja bang. Aku udah punya rokok sendiri. Aku punya prinsip nggak mau minta-minta bang. Kayak orang rendahan aja.” Asap rokoknya segera menyembul dari sela-sela mulut dan lubang hidungnya. Tapi aku masih merasa resah. “Yang abang takuti itu harusnya orang kayak dia tadi. Dia itu kejam. Nggak bermoral. Tapi gertak aja dia, pasti keder. Aku kagak takut ama orang kayak dia. Yang aku takuti itu ada dua. Polisi ama orang pemerintah yang suka ngejar-ngejar seenaknya. Padahal aku usaha halal, nggak meras atau maling. Tapi orang seperti aku nggak dipercaya bang ama mereka. Tetep aja dikejar-kejar. Aku juga pengen punya usaha sendiri bang, terus cari istri.”

Aku tersenyum lagi mendengarnya. Lalu dia ngeloyor pergi.

***

Si Bony sekarang udah jadi orang. Anggota dewan legeslatif dari sebuah partai besar bisa membuatnya jadi kaya mendadak. Sewaktu pulang kampung kemarin, dia membagi-bagikan bingkisan yang katanya dibawanya dari Jakarta dan luar negeri. Orang sekampung mendadak mengangkatnya jadi pahlawan desa. Bupati mengundangnya dengan jamuan khusus ala pejabat dari pusat yang sedang melakukan sidak. Derajat keluarganya mendadak sejajar dengan para priyayi keluarga kerajaan.

Suatu kebetulan rumah orang tuaku berada di samping rumahnya yang megah. Dan suatu kebetulan juga si Bony sempat melihatku dan mengajakku ngobrol. Entah mengapa dia senang dengan caraku ngomong yang memang ceplas ceplos dan sekenanya. Aku hanya lulus SMP dan tidak tamat SMA karena tidak punya biaya lagi. Tapi aku senang melihat berita di tv, membaca tulisan di koran yang menjadi bungkus makanan, atau mendengar cerita orang-orang. Dan itu kujadikan bahan obrolan dengan si Bony. Dan entah mengapa dia tertarik dengan omonganku. Ijasah tidak terlalu diperlukan, karena bisa dibuat kalau punya uang. Begitu katanya saat menceritakan pengalamannya. Yang penting punya kemampuan ngomong dan menemukan alasan yang tepat bila diperlukan. Dan aku memiliki kemampuan itu menurutnya, tinggal keberanian yang masih perlu diasah lagi.

Uang saku diberikannya padaku. Tiket kereta api sudah siap, tinggal menunggu berangkat saja. Dan alamat rumah sudah diberikan padaku. Nanti setelah sampai di stasiun tinggal telpon saja dan ada orang yang akan menjemputku. Dan di sinilah aku sekarang berada, di atas kereta besi, di dalam gerbong ekonomi, sedang menunggu munculnya gedung-gedung megah yang pernah kupandang nanar dan impian yang bertengger dalam sorot mata berbinar.

Dari solo ke jakarta
Kisah menjelang tahun baru.
2 Pebruari 2004.
BANYOLAN KONYOL
santopay


Suatu hari, temanku berkata kepadaku. “Hei ...! Hei ...! Sini ... Jo! Cepat ke sini ... Aku beritahu, suatu hari nanti aku akan jadi pemimpin masa depan. Lihat ini!” katanya sambil menyodorkan segebok kertas dengan aneka ragam warna dan bingkai yang membuat mata tertarik memandangnya. “Pelatihan-pelatihan dan workshop penting. Para pakar kepemimpinan, Psikolog-psikolog hebat, Pembicara-pembicara ulung, semuanya telah aku serap. Aku juga memiliki makalah-makalah hebat mereka.”

Dengan nada meninggi dan kepala sedikit mendongak ke atas seolah merendahkan diriku, dia berkata lagi. “Kalau kamu mau, kamu juga bisa menjadi pemimpin masa depan. Bangsa ini membutuhkan orang-orang muda yang brilian. Sekaranglah saatnya bagi kita untuk memimpin bangsa ini keluar dari penderitaan.”

Aku masih diam terpaku menatap semua sertifikat dan kertas-kertas yang ada di tangannya. Dia tertawa dengan keras. Telapak tangannya menepuk pundakku dengan keras seakan ingin menyadarkanku dari lamunan. “Sudahlah! Tak ada gunanya hanya berdiri dan melamunkan hari esok.” Kemudian dia melangkah pergi dengan bangganya. Merasa dirinya telah memiliki bekal yang tebal. Merasa dirinya telah siap menjadi pemimpin hebat. Dan aku hanya diam sambil menahan panas yang menjalar di pundakku.

Sejenak aku termenung, membiarkan berbagai suara-suara beradu dalam benakku. Aku duduk bersila di samping kandang kuda milik bapak kepala desa. ‘Bagaimana mungkin aku belajar menjadi seorang pemimpin dari temanku yang konyol seperti itu? Bagaimana mungkin hanya duduk dan mendengarkan ocehan-ocehan bisa menjadi seorang pemimpin?’ Walau cuma berharap sekalipun, rasanya sungguh berat. Itu hanyalah tindakan konyol. Bahkan otakku yang paling encer masih tidak bisa menerima barang secuil pun ide semacam itu.

Sementara waktu terus bergulir menerjang segala keresahan yang kurasakan. Pagi telah berganti siang, dan siang sebentar lagi akan menampilkan wajah kegelapan malam. Rona kemerahan senja seakan menggoda bola mataku yang berkeliaran mencari makna. Tatkala seorang serdadu dengan wajah lusuh memanggul peluru tertangkap oleh ujung mataku. Suaranya keras menyapa. “Hai, kawan. Kenapa duduk termenung seperti itu? Sedang menunggu seseorang?”

“Ya, aku sedang menunggu seseorang!” Entah darimana aku mendapatkan jawaban itu. Aku sendiri tak menyadarinya. Kata-kata itu sepertinya keluar begitu saja. Tapi mendadak aku menyukainya.

“Siapa orang yang kamu tunggu itu? Dia benar-benar tidak punya harga diri!” Aku kaget mendengar emosi yang keluar dari mulutnya. Tanpa tendeng aling-aling dan tanpa basa-basi, bagai gelegar geledek di siang bolong. Dia menatapku dengan tajam, menantikan mulutku mengatakan sesuatu. Dan akhirnya aku sadar bahwa keadaanku memang membuatnya prihatin. Lusuh dan tak terawat.

“Aku sedang menunggu seseorang yang bisa mengajariku menjadi seorang pemimpin.” Lagi-lagi aku menjawab sekenanya. Apa yang terlintas di benakku, terlontar dengan leluasa tanpa melalui sensor otakku lagi. Dan sekali lagi aku menyukai jawaban itu. Karena memang itulah yang sedang aku nantikan.

Mata yang tadinya melotot, dengan cepat digusur oleh senyuman yang tersungging di pipi. Serdadu itu meringis mendengar apa yang kukatakan. “Kalau kamu ingin menjadi seorang pemimpin, ikutlah denganku.” Katanya penuh semangat. “Banyak orang akan takut padamu. Bahkan setiap perintahmu akan dipatuhi dan dilaksanakan dengan cepat. Takkan ada seorangpun yang berani membantah.”

Kata-katanya tegas dan mantap. Raut mukanya begitu meyakinkan. Tak nampak penat dan lusuh seperti pertama kali tadi aku melihatnya. Dia memang sangat berwibawah. Juga gagah. Dan aku mulai tertarik mendengar penjelasannya lebih banyak lagi.

“Tunjukkan padaku di mana anak buahmu kini berada supaya aku bisa bergabung dengan mereka dan menjadi seperti dirimu!”

Serdadu itu menjawab dengan lantang dan tanpa ada nada keraguan. “Mereka sekarang sedang berada di medan laga, berjuang memperebutkan daerah kekuasaan.”

Serdadu itu lalu menghampiriku, menepuk pundakku persis di tempat yang tadi. Kemudian dia melangkah pergi dengan langkah kaki layaknya seorang pemberani. Menuju rumah sang istri untuk kepuasan dirinya pribadi.

Kali ini pundakku terasa nyeri setelah mendapatkan dua tepukan bertubi-tubi. Dan anehnya, ketertarikanku tadi juga sirna bersama langkah kaki serdadu yang pergi meninggalkanku. Perasaanku kembali resah. Dan suara-suara dalam kepala ini seakan berlomba untuk kumuntahkan. Untuk kedua kalinya aku berkata dalam hati. ‘Bagaimana mungkin aku belajar menjadi seorang pemimpin dari seorang seperti dia? Manusia yang tidak bertanggung jawab dan lebih mementingkan kepuasan diri pribadinya semata.’

Aku kembali menatap kandang kuda, menerawang kuda-kuda yang berlari mengejar senja. Seekor kuda hitam berlari paling depan memimpin kawanan mencari jalan menghindari rintangan. Telingaku seakan mendengar kegembiraan dari ringkikan yang saling bersahutan. Tanpa sadar, muncul angan-angan. Andaikan aku bisa menjadi poni jantan, memimpin tanpa paksaan dan berlari tanpa beban.

“Anak muda! Apa yang sedang kamu lamunkan?!” Seorang lelaki sudah berdiri di belakangku dan memberikan pandangan yang membuyarkan lamunan. Bola mataku menangkap sosok lelaki tua dengan baju lusuh dan tangan kanan memegang tongkat kayu. Caping bambu menggelantung di bahu, juga sudah lusuh termakan waktu. Lama aku terpaku menatap lelaki tua seumuran kakekku itu.

“Wahai anak muda, apa yang sedang kamu lamunkan?” Suaranya lirih, tapi mampu menggetarkan sendi-sendi tubuhku. Dan aku pun terjaga.

“Oh, maaf bapak tua! Saking kagetnya aku sampai lupa menjawabmu.” Kataku dengan polos. “Aku sedang mendambakan menjadi seorang pemimpin, bagaikan kuda poni hitam yang memimpin kawanan itu.”

Wajah bapak tua tanpa ekspresi menatap ke arahku. Seakan sepucuk senapan ditodongkan ke kepalaku. Aku jadi bimbang dan ragu.

“Kamu ingin menjadi seorang pemimpin?” Tanyanya lagi.

“Ya!” Jawabku singkat. Dan tiba-tiba saja mulutku nyerocos melanjutkan. “Apakah bapak bisa menunjukkan jalan padaku?”

“Ikutlah denganku, maka akan kutunjukkan suatu tempat di mana kamu bisa belajar menjadi seorang pemimpin.”

Setelah berkata demikian, bapak tua itu berjalan di depan dan aku mengikutinya dengan enggan. Dan anehnya, kenapa aku mau menuruti begitu saja, seolah ada tarikan kuat dan membuat diriku gelisah. Dia hanyalah lelaki tua, dengan tubuh rentah dan langkah kaki yang tak lagi gagah. Seolah ada tarikan magnet yang membuat tubuhku lengket. Dan aku lelaki muda, dengan badan tegap dan langkah kaki mantap. Tapi tak mampu lagi menghindar.

Beberapa saat setelah senja berganti malam kelam, aku dan bapak tua telah sampai di suatu puing-puing reruntuhan. Mungkin bangunan yang hancur karena perang. Aku jadi heran, kenapa bapak tua membawaku ke tempat ini. Ada suara-suara dalam benakku bergejolak seakan hendak menolak. Emosi darah mudaku terlonjak.

“Hei, bapak tua! Mengapa kamu membawaku ke tempat seperti ini?” Suaraku mungkin terdengar ketus. Bahkan aku sendiri tak bisa mempercayainya. Lagi-lagi terlontar begitu saja.

“Bukankah kamu ingin menjadi seorang pemimpin?” Jawabnya enteng seakan tak menghiraukan ketidaksopananku. “Maka ikutlah denganku! Dan, percayalah padaku!”

Aku berusaha menerima jawaban itu, walau hati ini masih tetap risau. Kuikuti langkah kaki bapak tua itu memasuki puing-puing semakin ke dalam. Dan semakin ke dalam, setiap tapak kaki menjejak tanah, perasaanku menjadi bertambah heran. Kulihat orang-orang lusuh, anak-anak berbadan ceking dengan pakaian compang-camping, wajah-wajah polos menyiratkan penderitaan, berjajar-jajar dan berbaring di tempat yang tak layak ditempati. Mereka semua manusia, tapi mengapa bisa mirip dengan sampah. Terpisah dari peradaban dan menjadi sisa-sisanya. Siapa yang telah melakukannya? Aku terkesiap.

“Anak muda!” Suara bapak tua itu menyadarkanku. “Kalau kamu ingin benar-benar jadi pemimpin, maka kamu harus bisa membuat mereka bahagia. Kamu harus mau membantu mereka terlepas dari penderitaan. Kamu harus mau melayani mereka. Kamu harus setia menemani mereka dalam suka maupun duka.”

Dan aku hanya bisa terdiam membisu mendengar perkataan bapak tua itu. kembali kulihat sekelilingku yang penuh dengan manusia-manusia berwajah lusuh. Lama aku diam terpaku. Sementara suara-suara dalam benakku terus beradu ingin terlontar satu per satu. Dan telingaku menangkap teriakan pilu.

“Tolong. Dengarkanlah kami! Wahai pemimpin bangsa ini!”

Surabaya, 10 Desember ‘03
Revisi dari: terjemahan hati yang menggugat. ‘97