menanti Bintang menari
santopay
9 pebruari ‘04
Di sini malam ini, angin berhembus
merasuk ke dalam relung tubuh
Di sini sendiri, dan menanti
bintang menari
Kulihat, bayangbayang menggeliat
jejak kaki siang tadi, terurai kembali
mengusik penat matahari menyengat
dia seperti lebah, juga kunangkunang senja
yang tak pernah resah walau
mendung memeluk raga semesta
Berhentilah berteriak jiwa!
Tak ada lagi riak tersisa!
Bagi rasa yang tak pernah bertemu asa
hanya hampa yang tersisa
dan jika sampah menjadi berarti
lalu untuk siapa cinta tercipta?
mengapa juga kaki mesti melangkah?
bukankah lebih baik berdiam diri
biar bintang saja yang menari
Seekor lebah hanya bisa menyengat sekali, lalu mati. Tinggal rasa yang tersisa
Dan manusia hanya terlahir sekali, lalu mati. Tinggal kenangan yang tersisa
kalaupun itu ada.
Mungkin cinta manusia, sengatan lebah. Cuma memberi derita sebelum meregang nyawa. Tersenyumlah, kalau itu berarti. Tapi, tolong tanyakan dulu padaNya
benarkah cinta manusia sengatan lebah? atau bahkan lebah reinkarnasi manusia?
Sekarang tersenyumlah geli
aku tak peduli
Seperti kunangkunang senja
aku terus berlari menembus dinding
tradisi. Tak pernah resah meski
mendung memeluk raga semesta
sendiri kini aku berlari, tak ingin kembali
lelah menanti bintang menari
10 Pebruari ‘04
Pagi tadi aku teringat kembali.
Awal Pebruari, terasa sangat indah setelah kehadirannya. Ternyata logika bisa kalah pada rasa. Virus cinta melanda. Begitu pula sengatan matahari, takkan pernah menyerah pada pelukan mega. Semuanya tercipta indah hingga membuat jiwa lupa pada raga.
Bintang kan terus menari.
“Apa yang sedang mengganggu relung jiwamu, kasihku?”
Bintang tak sanggup memandang kunangkunang murung. Bintang seharusnya menari, dan terus menari. Dan kunangkunang terus berlari.
“Tak ada lagi ruang jiwa untuk murung, kasihku. Semua telah terisi canda dan tawa. Serasa bunga bermekaran dengan pesona warna di setiap penjuru kalbu. Harum baunya terbebas lepas hembusan napas. Tapi aku resah.”
“Mengapa engkau mesti resah, kasihku?”
“Gerobak pengais sampah terisi penuh permata. Tak ada lagi tempat untuk sampah. Aku resah, karena tak ada lagi tempat untuk gelisah, tak ada lagi ruang untuk resah.”
Bintang kan terus menari. Walau resah. Gelisah. Melanda jiwa. Logika telah kalah pada rasa. Hingga saatnya berpisah. Tak ada lagi tempat untuk gelisah. Tak ada lagi ruang untuk resah. Semua telah terisi canda dan tawa. Begitulah bila virus cinta melanda.
Jejak kaki terurai kembali. Jejak kaki siang tadi. Kunangkunang berkubang pada jelaga, menanti bintang menari. Mencari rasa bertemu asa. Tapi tetap siasia.
Bintang tidak pergi, kasihku. Kala siang datang, bintang menjelma matahari. Kala mega menghadang malam, bintang tetap menari.
11 Pebruari ‘04
Begitulah ceritaku.
Pohon tegak siang hari, berarak bersama angin malam ini. Derunya menyibak noda dan kerak di dalam benak. Serak serunya berkumandang sejenak. Aku tahu. Ada yang sedang beranjak.
Kunangkungan masih terus berlari dan terus berlari. Menjejak sesekali lalu terbang lagi. Jelaga siang tadi berganti kelam malam ini. Indah ... tapi sunyi telah melanda. Tak ada lagi bintang menari. Tak lagi ada rasa bertemu asa.
terpaksa kutatap rembulan
di atas secuil harapan,
dan bertahan ruang sendiriku,
lalu beradu
ada teriakanteriakan pilu
jadi satu detak jantungku
aku sudah jenuh dengan resah
tinggalkan saja di sana
membatu sampai biru, bahkan kaku
lalu diam diri sendiri, atau berlari
sejauh bintang menari
sampai kausadari
sunyi hanya sebatas imagi
lalu setetes embun tibatiba turun
memberi makna
kepada cahaya rembulan
Begitulah kunangkunang, dia tak pernah berhenti menjaga cinta walau riak gelombang menghadang. Dia memberi arti. Bagi jiwa yang bermimpi, hidup takkan pernah berhenti. Dia memberi makna. Bagi jiwa yang percaya, harapan takkan pernah punah.
Kunangkunang terus berlari. Dan bintang masih menari. Aku tertidur, lalu bermimpi. Tentang setetes embun yang tibatiba turun, memberi makna kepada cahaya rembulan.
13 pebruari ‘04
Kemarin aku terbaring tak berdaya, hingga kurasa tegak ragaku di tanah. Ada kunangkunang berputar di atas kepala, kukira malaikat. Setelah lama kulihat ternyata cuma lalat, bukan kunangkunang atau malaikat. Kesal kutampar udara sampai terbelah, “Dasar hewan laknat, enyahlah!”
Dan pagi tadi, kembali kulihat mentari tegak bersinar penuh percaya diri. Sementara aku masih terdampar di ruangku sendiri. Tembok kotak itu memenjaraku, memisahkanku dan mengisolasiku dari dunia. Aku lelah dan ingin keluar. Guratguratnya sampai membekas di wajahku, entah sudah berapa lama. Mungkin sehari, atau dua hari atau bahkan berharihari. Entahlah. Terakhir yang kuingat, aku tertidur lalu bermimpi tentang setetes embun dan cahaya rembulan.
Di ujung ruangku, ada sosok raga terbuat dari batu. Wajahnya mirip aku, tapi bukan aku. Ada goresan di sekujur tubuh dan daging terkelupas di siku, kuraba diriku ternyata itu bukan aku. Aku bersyukur itu bukan aku. Kulit wajahnya gelap membiru, dan pasti itu bukan aku. Lalu ... tubuh itu?
Aku ragu. Kupegang tubuh itu, tapi diam terpaku. Kupanggil, diam membisu. Aku ragu, maka kutinggalkan dia di situ.
Dan sekarang, kaki ini melangkah bagai melayang, ringan tanpa beban. Tentu saja aku jadi heran. Ke mana perginya gravitasi? setelah tetes embun yang tibatiba turun. Semua mengambang, dan diam. Tetes air keran membentuk bulatan sebelum terjerembab ke tanah, tapi takkan pernah. Daun berguguran terusik tiupan angin, berakhir bagai lukisan tak jadi. Mereka mengambang. Atau waktu sedang membangkang. Tapi pada siapa? dan Kenapa? Ada yang janggal.
Tibatiba kulihat seberkas cahaya, lambat lajunya terpancar merah cakrawala. Tapi tak lama, lalu melesat menghantam tembok ruangku. Seketika ada yang menyerbu. Deru angin mendesing bagai peluru, dedaunan mengayun seperti sembilu dan gemericik air menyiksa telingaku. Aku terajam dan tak mampu melawan. Bahkan tak sempat sekedar mata terpejam.
Sampai habis ragaku dikoyak semestaku.
Aku berseru,
‘Beginilah akhirku! Dari debu
menjadi abu lalu membatu.’
Kutemukan diriku terbang meninggalkan kunangkunang menyongsong rembulan. Lalu ada bintang menari di sampingku.
‘Mimpi memang aneh.’
‘Hiduplah yang aneh.’ Seruku pada bintang yang menari.
‘Tapi kamu sudah mati.’ Dia berkata lagi.
‘Dan kubawa keanehan itu mati.’
Mendadak semua berganti.
Kurasakan mulutku megapmegap menangkap udara pengap ruangku. Keringat bercucuran, karena berkejaran jantungku. Aku terjaga.
santopay
9 pebruari ‘04
Di sini malam ini, angin berhembus
merasuk ke dalam relung tubuh
Di sini sendiri, dan menanti
bintang menari
Kulihat, bayangbayang menggeliat
jejak kaki siang tadi, terurai kembali
mengusik penat matahari menyengat
dia seperti lebah, juga kunangkunang senja
yang tak pernah resah walau
mendung memeluk raga semesta
Berhentilah berteriak jiwa!
Tak ada lagi riak tersisa!
Bagi rasa yang tak pernah bertemu asa
hanya hampa yang tersisa
dan jika sampah menjadi berarti
lalu untuk siapa cinta tercipta?
mengapa juga kaki mesti melangkah?
bukankah lebih baik berdiam diri
biar bintang saja yang menari
Seekor lebah hanya bisa menyengat sekali, lalu mati. Tinggal rasa yang tersisa
Dan manusia hanya terlahir sekali, lalu mati. Tinggal kenangan yang tersisa
kalaupun itu ada.
Mungkin cinta manusia, sengatan lebah. Cuma memberi derita sebelum meregang nyawa. Tersenyumlah, kalau itu berarti. Tapi, tolong tanyakan dulu padaNya
benarkah cinta manusia sengatan lebah? atau bahkan lebah reinkarnasi manusia?
Sekarang tersenyumlah geli
aku tak peduli
Seperti kunangkunang senja
aku terus berlari menembus dinding
tradisi. Tak pernah resah meski
mendung memeluk raga semesta
sendiri kini aku berlari, tak ingin kembali
lelah menanti bintang menari
10 Pebruari ‘04
Pagi tadi aku teringat kembali.
Awal Pebruari, terasa sangat indah setelah kehadirannya. Ternyata logika bisa kalah pada rasa. Virus cinta melanda. Begitu pula sengatan matahari, takkan pernah menyerah pada pelukan mega. Semuanya tercipta indah hingga membuat jiwa lupa pada raga.
Bintang kan terus menari.
“Apa yang sedang mengganggu relung jiwamu, kasihku?”
Bintang tak sanggup memandang kunangkunang murung. Bintang seharusnya menari, dan terus menari. Dan kunangkunang terus berlari.
“Tak ada lagi ruang jiwa untuk murung, kasihku. Semua telah terisi canda dan tawa. Serasa bunga bermekaran dengan pesona warna di setiap penjuru kalbu. Harum baunya terbebas lepas hembusan napas. Tapi aku resah.”
“Mengapa engkau mesti resah, kasihku?”
“Gerobak pengais sampah terisi penuh permata. Tak ada lagi tempat untuk sampah. Aku resah, karena tak ada lagi tempat untuk gelisah, tak ada lagi ruang untuk resah.”
Bintang kan terus menari. Walau resah. Gelisah. Melanda jiwa. Logika telah kalah pada rasa. Hingga saatnya berpisah. Tak ada lagi tempat untuk gelisah. Tak ada lagi ruang untuk resah. Semua telah terisi canda dan tawa. Begitulah bila virus cinta melanda.
Jejak kaki terurai kembali. Jejak kaki siang tadi. Kunangkunang berkubang pada jelaga, menanti bintang menari. Mencari rasa bertemu asa. Tapi tetap siasia.
Bintang tidak pergi, kasihku. Kala siang datang, bintang menjelma matahari. Kala mega menghadang malam, bintang tetap menari.
11 Pebruari ‘04
Begitulah ceritaku.
Pohon tegak siang hari, berarak bersama angin malam ini. Derunya menyibak noda dan kerak di dalam benak. Serak serunya berkumandang sejenak. Aku tahu. Ada yang sedang beranjak.
Kunangkungan masih terus berlari dan terus berlari. Menjejak sesekali lalu terbang lagi. Jelaga siang tadi berganti kelam malam ini. Indah ... tapi sunyi telah melanda. Tak ada lagi bintang menari. Tak lagi ada rasa bertemu asa.
terpaksa kutatap rembulan
di atas secuil harapan,
dan bertahan ruang sendiriku,
lalu beradu
ada teriakanteriakan pilu
jadi satu detak jantungku
aku sudah jenuh dengan resah
tinggalkan saja di sana
membatu sampai biru, bahkan kaku
lalu diam diri sendiri, atau berlari
sejauh bintang menari
sampai kausadari
sunyi hanya sebatas imagi
lalu setetes embun tibatiba turun
memberi makna
kepada cahaya rembulan
Begitulah kunangkunang, dia tak pernah berhenti menjaga cinta walau riak gelombang menghadang. Dia memberi arti. Bagi jiwa yang bermimpi, hidup takkan pernah berhenti. Dia memberi makna. Bagi jiwa yang percaya, harapan takkan pernah punah.
Kunangkunang terus berlari. Dan bintang masih menari. Aku tertidur, lalu bermimpi. Tentang setetes embun yang tibatiba turun, memberi makna kepada cahaya rembulan.
13 pebruari ‘04
Kemarin aku terbaring tak berdaya, hingga kurasa tegak ragaku di tanah. Ada kunangkunang berputar di atas kepala, kukira malaikat. Setelah lama kulihat ternyata cuma lalat, bukan kunangkunang atau malaikat. Kesal kutampar udara sampai terbelah, “Dasar hewan laknat, enyahlah!”
Dan pagi tadi, kembali kulihat mentari tegak bersinar penuh percaya diri. Sementara aku masih terdampar di ruangku sendiri. Tembok kotak itu memenjaraku, memisahkanku dan mengisolasiku dari dunia. Aku lelah dan ingin keluar. Guratguratnya sampai membekas di wajahku, entah sudah berapa lama. Mungkin sehari, atau dua hari atau bahkan berharihari. Entahlah. Terakhir yang kuingat, aku tertidur lalu bermimpi tentang setetes embun dan cahaya rembulan.
Di ujung ruangku, ada sosok raga terbuat dari batu. Wajahnya mirip aku, tapi bukan aku. Ada goresan di sekujur tubuh dan daging terkelupas di siku, kuraba diriku ternyata itu bukan aku. Aku bersyukur itu bukan aku. Kulit wajahnya gelap membiru, dan pasti itu bukan aku. Lalu ... tubuh itu?
Aku ragu. Kupegang tubuh itu, tapi diam terpaku. Kupanggil, diam membisu. Aku ragu, maka kutinggalkan dia di situ.
Dan sekarang, kaki ini melangkah bagai melayang, ringan tanpa beban. Tentu saja aku jadi heran. Ke mana perginya gravitasi? setelah tetes embun yang tibatiba turun. Semua mengambang, dan diam. Tetes air keran membentuk bulatan sebelum terjerembab ke tanah, tapi takkan pernah. Daun berguguran terusik tiupan angin, berakhir bagai lukisan tak jadi. Mereka mengambang. Atau waktu sedang membangkang. Tapi pada siapa? dan Kenapa? Ada yang janggal.
Tibatiba kulihat seberkas cahaya, lambat lajunya terpancar merah cakrawala. Tapi tak lama, lalu melesat menghantam tembok ruangku. Seketika ada yang menyerbu. Deru angin mendesing bagai peluru, dedaunan mengayun seperti sembilu dan gemericik air menyiksa telingaku. Aku terajam dan tak mampu melawan. Bahkan tak sempat sekedar mata terpejam.
Sampai habis ragaku dikoyak semestaku.
Aku berseru,
‘Beginilah akhirku! Dari debu
menjadi abu lalu membatu.’
Kutemukan diriku terbang meninggalkan kunangkunang menyongsong rembulan. Lalu ada bintang menari di sampingku.
‘Mimpi memang aneh.’
‘Hiduplah yang aneh.’ Seruku pada bintang yang menari.
‘Tapi kamu sudah mati.’ Dia berkata lagi.
‘Dan kubawa keanehan itu mati.’
Mendadak semua berganti.
Kurasakan mulutku megapmegap menangkap udara pengap ruangku. Keringat bercucuran, karena berkejaran jantungku. Aku terjaga.
0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home