GERBONG EKONOMI
santopay
Dan aku sekarang sudah berada di atas kereta besi menuju ibu kota. Tempat para pemimpin bangsa yang menjadi impianku, impian anak desa yang ingin maju. Di tempat tinggalku, sudah banyak cerita yang kudengar, sudah banyak gambar wajah gedung megah yang kupandang nanar, dan sudah banyak impian bertengger dalam bola mata yang berbinar.
Akhirnya aku mendapatkan tempat tinggal sementaraku di deretan gerbong paling belakang. Dua kali aku tersingkir, dua kali aku terpaksa beranjak pergi, terusir oleh teman-temanku yang senasib seperjalanan. Orang-orang pinggir yang ingin mendapatkan kenyamanan selagi ada kesempatan. Sejak awal sudah digariskan bahwa tempat tinggalku gerbong delapan nomer 11A. Tapi apa daya karena di sana sudah ada ibu-ibu dengan anak gadisnya yang tidak mendapat jatah.
Sebenarnya ingin kurebut kembali. Tempat tinggalku itu sudah kubeli. Di kursi itu seharusnya aku bisa mulai bermimpi. Aku punya bukti-bukti otentik, dan bila mereka tak mau beranjak pergi aku bisa membuatnya terusir. Tapi mereka sudah akan beranjak pergi, sebelum sempat aku menyuruh pergi. Aku melihat tempat tinggal itu yang memang milikku. Dan aku merasakan tidak enaknya tersingkir, walau sebenarnya mereka pantas terusir. Dan akhirnya aku memilih tersingkir sekali lagi.
Di sinilah aku sekarang berada, di deretan gerbong paling belakang. Tempat para penyusup malam dan tempat orang-orang terbuang. Di sinilah sekarang aku bermimpi, di atas gerbong ekonomi.
***
“Bang, jualan apa aja!” Seorang bocah remaja yang tadi meringkuk di selter teras WC memulai obrolannya. Tadinya dia kukira salah seorang penumpang yang terbuang. Sama seperti lelaki yang menggelar koran bekas di samping tempat tinggalku. Sama seperti seorang lelaki tambun yang tak memiliki karcis dan terpaksa berurusan dengan polisi. Tapi ternyata dia salah seorang anggota penyusup malam, yang menjajakan barang dagangan atau jasa sekadarnya. Bibir mulutnya cukup menonjol dan kedua bola matanya tidak saling sinkron satu sama lain.
“Kacang rebus. Enak lho. Mau coba?” Seorang lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya. Tubuh kurus kering dengan topi caping yang bertengger miring mencoba menangkring senyum.
“Bolehlah. Serebu aja.” Beberapa lembaran uang ratusan dan seribuan lecek tergenggam erat di tangannya. Dia menghitung. Merapikan selembar demi selembar, lalu memasukkannya lagi ke dalam saku celana kumalnya. “Ini aja, ya bang. Ada kembalinyakan?! Sekalian tuker, kan juga enak buat abang. Lebih gampang menyimpannya.”
“Wah, banyak duit ya?” Tangan hitam legam penuh guratan urat darah menyodorkan kertas koran membungkus kacang rebus. “Nih empat rebu!”
“Enak bang.” Bocah remaja kelaparan memamah kacang rebus penuh penghayatan. “Bang! Bang! Jualan kopi kan?”
Seorang lelaki berkumis tebal menoleh.
“Buatin satu dong. Berapaan?” Si bocah remaja memasukkan telunjuknya ke dalam mulut dan memutar-mutarnya melepaskan remah-remah kacang yang menempel di dinding mulutnya.
“Dua Rebu!” Lelaki berkumis menggunting bungkus kopi lengkap dengan gula dan susu. Dan memasukkan isinya ke dalam gelas plastik. “Panas atau anget?”
“Panas aja lebih enak. Nih uangnya.” Si bocah remaja menyodorkan dua lembaran uang leceknya. “Bang, mau juga? Aku beliin. Enak lho.” Lelaki tua penjaja kacang rebus cuma bengong.
“Satu lagi. Buat temanku ini.”
Seorang bocah remaja, yang dari sorot matanya sepintas kusangka pembuat onar, pemilik sorot mata maling dan tak kenal kebaikan, ternyata telah membuatku tersenyum kecewa. Penilaianku salah. Tidak sesuai dengan harapanku. Beberapa kali sorot mata itu beradu dengan milikku dan walau aku lelaki muda yang berbadan tegap, tetap saja ada rasa merinding. Mungkin dia merasakan penilaianku yang jelek tentangnya.
“Boleh aku saran, bang.” Si bocah memulai lagi obrolannya dengan lelaki tua penjaja kacang. “Jualan kacang goreng aja. Bisa tahan lebih lama dan untungnya nggak beda dengan kacang rebus. Kalau kacang rebuskan bisa basi. Sehari aja rasanya udah nggak enak. Kalau udah begitu Abang rugi jadinya.”
“Biasanya dua hari kacangku udah habis. Kalau menyimpannya bener, kacang rebus bisa tahan sampe dua-tiga hari kok.”
“Tapi rasanya udah beda.” Si bocah memberikan alasannya. “Coba juga dagangan yang lain, jangan cuma kacang rebus. Ditambah jualan kacang bawang, mungkin juga bisa kacang telor atau apa aja yang nggak mudah basi. Pokoknya yang awet dan bisa nambah untunglah bang.”
Si bocah terus saja ngomong dan mendengar dan ngomong lagi. Di sinilah tempat mereka berada, di atas gerbong ekonomi, di samping tempat tinggalku. Tempat orang-orang terbuang dan penyusup malam.
***
Sementara kereta besi semakin mendekati ibu kota. Cadar malam yang gelap sebentar lagi akan tersingkap mentari pagi. Aku masih berada di gerbong ekonomi, tempat orang-orang terbuang dan penyusup malam. Aku masih mencoba menggapai mimpi yang kubawa serta dari desaku. Cerita tentang para pemimpin bangsa, gambar-gambar gedung megah yang kupandang nanar dan impian yang bertengger dalam sorot mata yang berbinar, masih menghiasi malam bercadar yang sedang kulalui.
Dulu sempat aku bermimpi menjadi seorang carik, mantri atau bahkan bupati. Jabatan yang waktu itu aku anggap sangat mentereng. Seorang carik desa bisa membangun rumah megah dan menyekolahkan Bony, teman sekelas akangku yang pindah sekolah ke kota dan tidak lagi dipanggil Boniman, setelah berhasil membantu warga dalam penjualan tanah. Seorang mantri desa yang memiliki dua orang istri karena dianggap sakti setelah berhasil menghentikan wabah disentri hanya dengan meminumkan air masakannya. Dan seorang bupati yang setiap hari naik mercy.
Tapi sekarang aku tidak lagi bermimpi menjadi carik, mantri atau bahkan bupati. Jabatan itu sekarang sudah tidak lagi mentereng, setelah Bony pulang ke kampung halaman. Setelah pak carik merasa begitu bangga atas keberhasilan Bony. Setelah Rima, kembang desa yang menjadi pujaan lelaki, lebih memilih Bony ketimbang pak mantri. Setelah mercy pak bupati terlihat kuno bila dibandingkan mercynya Bony.
Dan sekarang di sinilah aku berada. Di atas kereta besi, di dalam gerbong ekonomi, seperti Bony enam tahun lalu. Menuju ibu kota dengan membawa gambar-gambar gedung megah yang kupandang nanar dan impian yang bertengger dalam sorot mata yang berbinar. Setelah mendengar cerita Bony yang berhasil menjadi ketua partai politik dan menjadi anggota dewan legeslatif.
***
“Permisi bapak-bapak, ibu-ibu! Biar saya bersihkan dulu. Permisi bang!” Seorang lelaki muda berbadan kurus dan berjambang mengais-ngais sampah yang berserakan di lantai gerbong tempat tinggalku. Sepotong sapu pendek, dengan tangkai yang sengaja dipotong pendek, bergerak-gerak membuat sampah sisa makanan, kulit kacang, kulit salak, plastik bungkus tahu dan abu rokok di bawahku tambah berserakkan tak menentu. Tangannya menengadahkan kantong plastik yang langsung bisa kuterka berisi uang receh, diiringi pandangan memaksa ke setiap penumpang yang terbuang. “Uang kebersihannya, bang. Seiklasnya saja. Ayo, ayo demi kebersihan. Cepek-cepek juga nggak pa-pa, apalagi cemban.”
Si bocah remaja yang duduk di deretan paling belakang mencibir tingkah pola lelaki muda penjaga kebersihan.
“Nih. Ini namanya kerja keras. Bener-bener kerja. Kagak kayak kamu. Encrek ... encrek ... encrek ...! Udah bunyinya kagak karuan, suara parau lagi. Nggak bermutu.” Lelaki muda penjaga kebersihan bersandar di dinding WC sibuk menghitung pendapatannya hari ini.
“Apanya yang bermutu. Cuma pake sapu bubulan begitu kok bermutu. Lihat tuh, pakean aja yang perlente tapi kantong tetep kere.” Si bocah remaja terpancing emosinya.
“Tengik!” Lelaki muda penjaga kebersihan juga emosi. “Coba mana peralatanmu. Ayo, coba tunjukkan.” Tangannya mendorong kepala si bocah dengan kasar, lalu merampas kaleng yang tersimpan di saku si bocah.
“Ini. He ... he ... Cuma ini yang kamu gunakan. Kamu kagak bisa cari uang pake ini.” Kaleng berisi pasir milik si bocah di lemparkannya dengan asal dan menimbulkan bunyi berkelontang. Lalu dia ngeloyor pergi.
“Bajingan tetep aja jadi bajingan. Nggak pernah bisa sadar. Kamu kira aku takut apa! Dasar pengemis kere, lu!” Si bocah berteriak kesal, tapi si lelaki tidak menghiraukan. Sepatu pantofelnya berkeresek di lantai gerbong mengikuti langkah kakinya ngeloyor pergi.
“Gini-gini aku cari uang dengan halal. Kagak mau maling atau meras kayak kamu.” Sorot matanya yang membuatku merinding tadi sekarang bertambah garang. Tubuhnya kecil, tapi nyalinya tidak surut menghadapi tipe manusia apapun. Mungkin karena kehidupan keras yang sudah menempanya, telah membentuk mental baja. Begitu pikirku.
“Bang. Aku nggak suka cari masalah. Tapi kalo diganggu, aku akan lawan dia.” Katanya pada lelaki tua penjual kacang. “Aku lebih suka cari teman. Lebih enak berteman. Bisa hidup damai. Cari musuh hanya dapet penyakit. Betul nggak.”
Si lelaki tua cuma diam saja. Dan aku mendengar omelannya karena tertarik. Tadinya aku juga menyangka dia menggunakan lem kaleng itu untuk mabuk, seperti yang pernah aku lihat di tv, nge-fly dengan menghirup uap lem kaleng. Tapi ternyata kaleng itu berisi butiran halus untuk ngamen.
“Ditangkep polisi nggak enak bang. Digebukin melulu tiap harinya. Badan bisa jadi bengep semua. Mending kalo langsung mati, enak. Tapi kalo masih hidup, bisa tambah susah. Udah nggak bisa cari duit, malah harus beli obat. Makanya aku suka berteman dengan orang kayak abang ini. Kagak bermasalah. Kalau sama orang nggak bener kayak dia itu tuh, bisa berabe bang. Hidup jadi susah.”
Si bocah merasa dipandangi. Dia melihatku dan membuat degup jantungku berdesir lebih cepat.
“Betul nggak bang?” tanyanya. Aku cuma tersenyum tanpa mengeluarkan suara.
“Abang nggak usah takut ama aku. Aku nggak ngapa-ngapa.” Si bocah berdiri dan berjalan ke arah tempat tinggalku. “Pinjem korek dong bang.”
Aku ulurkan korek dan bungkus rokok milikku.
“Koreknya aja bang. Aku udah punya rokok sendiri. Aku punya prinsip nggak mau minta-minta bang. Kayak orang rendahan aja.” Asap rokoknya segera menyembul dari sela-sela mulut dan lubang hidungnya. Tapi aku masih merasa resah. “Yang abang takuti itu harusnya orang kayak dia tadi. Dia itu kejam. Nggak bermoral. Tapi gertak aja dia, pasti keder. Aku kagak takut ama orang kayak dia. Yang aku takuti itu ada dua. Polisi ama orang pemerintah yang suka ngejar-ngejar seenaknya. Padahal aku usaha halal, nggak meras atau maling. Tapi orang seperti aku nggak dipercaya bang ama mereka. Tetep aja dikejar-kejar. Aku juga pengen punya usaha sendiri bang, terus cari istri.”
Aku tersenyum lagi mendengarnya. Lalu dia ngeloyor pergi.
***
Si Bony sekarang udah jadi orang. Anggota dewan legeslatif dari sebuah partai besar bisa membuatnya jadi kaya mendadak. Sewaktu pulang kampung kemarin, dia membagi-bagikan bingkisan yang katanya dibawanya dari Jakarta dan luar negeri. Orang sekampung mendadak mengangkatnya jadi pahlawan desa. Bupati mengundangnya dengan jamuan khusus ala pejabat dari pusat yang sedang melakukan sidak. Derajat keluarganya mendadak sejajar dengan para priyayi keluarga kerajaan.
Suatu kebetulan rumah orang tuaku berada di samping rumahnya yang megah. Dan suatu kebetulan juga si Bony sempat melihatku dan mengajakku ngobrol. Entah mengapa dia senang dengan caraku ngomong yang memang ceplas ceplos dan sekenanya. Aku hanya lulus SMP dan tidak tamat SMA karena tidak punya biaya lagi. Tapi aku senang melihat berita di tv, membaca tulisan di koran yang menjadi bungkus makanan, atau mendengar cerita orang-orang. Dan itu kujadikan bahan obrolan dengan si Bony. Dan entah mengapa dia tertarik dengan omonganku. Ijasah tidak terlalu diperlukan, karena bisa dibuat kalau punya uang. Begitu katanya saat menceritakan pengalamannya. Yang penting punya kemampuan ngomong dan menemukan alasan yang tepat bila diperlukan. Dan aku memiliki kemampuan itu menurutnya, tinggal keberanian yang masih perlu diasah lagi.
Uang saku diberikannya padaku. Tiket kereta api sudah siap, tinggal menunggu berangkat saja. Dan alamat rumah sudah diberikan padaku. Nanti setelah sampai di stasiun tinggal telpon saja dan ada orang yang akan menjemputku. Dan di sinilah aku sekarang berada, di atas kereta besi, di dalam gerbong ekonomi, sedang menunggu munculnya gedung-gedung megah yang pernah kupandang nanar dan impian yang bertengger dalam sorot mata berbinar.
Dari solo ke jakarta
Kisah menjelang tahun baru.
2 Pebruari 2004.
santopay
Dan aku sekarang sudah berada di atas kereta besi menuju ibu kota. Tempat para pemimpin bangsa yang menjadi impianku, impian anak desa yang ingin maju. Di tempat tinggalku, sudah banyak cerita yang kudengar, sudah banyak gambar wajah gedung megah yang kupandang nanar, dan sudah banyak impian bertengger dalam bola mata yang berbinar.
Akhirnya aku mendapatkan tempat tinggal sementaraku di deretan gerbong paling belakang. Dua kali aku tersingkir, dua kali aku terpaksa beranjak pergi, terusir oleh teman-temanku yang senasib seperjalanan. Orang-orang pinggir yang ingin mendapatkan kenyamanan selagi ada kesempatan. Sejak awal sudah digariskan bahwa tempat tinggalku gerbong delapan nomer 11A. Tapi apa daya karena di sana sudah ada ibu-ibu dengan anak gadisnya yang tidak mendapat jatah.
Sebenarnya ingin kurebut kembali. Tempat tinggalku itu sudah kubeli. Di kursi itu seharusnya aku bisa mulai bermimpi. Aku punya bukti-bukti otentik, dan bila mereka tak mau beranjak pergi aku bisa membuatnya terusir. Tapi mereka sudah akan beranjak pergi, sebelum sempat aku menyuruh pergi. Aku melihat tempat tinggal itu yang memang milikku. Dan aku merasakan tidak enaknya tersingkir, walau sebenarnya mereka pantas terusir. Dan akhirnya aku memilih tersingkir sekali lagi.
Di sinilah aku sekarang berada, di deretan gerbong paling belakang. Tempat para penyusup malam dan tempat orang-orang terbuang. Di sinilah sekarang aku bermimpi, di atas gerbong ekonomi.
***
“Bang, jualan apa aja!” Seorang bocah remaja yang tadi meringkuk di selter teras WC memulai obrolannya. Tadinya dia kukira salah seorang penumpang yang terbuang. Sama seperti lelaki yang menggelar koran bekas di samping tempat tinggalku. Sama seperti seorang lelaki tambun yang tak memiliki karcis dan terpaksa berurusan dengan polisi. Tapi ternyata dia salah seorang anggota penyusup malam, yang menjajakan barang dagangan atau jasa sekadarnya. Bibir mulutnya cukup menonjol dan kedua bola matanya tidak saling sinkron satu sama lain.
“Kacang rebus. Enak lho. Mau coba?” Seorang lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya. Tubuh kurus kering dengan topi caping yang bertengger miring mencoba menangkring senyum.
“Bolehlah. Serebu aja.” Beberapa lembaran uang ratusan dan seribuan lecek tergenggam erat di tangannya. Dia menghitung. Merapikan selembar demi selembar, lalu memasukkannya lagi ke dalam saku celana kumalnya. “Ini aja, ya bang. Ada kembalinyakan?! Sekalian tuker, kan juga enak buat abang. Lebih gampang menyimpannya.”
“Wah, banyak duit ya?” Tangan hitam legam penuh guratan urat darah menyodorkan kertas koran membungkus kacang rebus. “Nih empat rebu!”
“Enak bang.” Bocah remaja kelaparan memamah kacang rebus penuh penghayatan. “Bang! Bang! Jualan kopi kan?”
Seorang lelaki berkumis tebal menoleh.
“Buatin satu dong. Berapaan?” Si bocah remaja memasukkan telunjuknya ke dalam mulut dan memutar-mutarnya melepaskan remah-remah kacang yang menempel di dinding mulutnya.
“Dua Rebu!” Lelaki berkumis menggunting bungkus kopi lengkap dengan gula dan susu. Dan memasukkan isinya ke dalam gelas plastik. “Panas atau anget?”
“Panas aja lebih enak. Nih uangnya.” Si bocah remaja menyodorkan dua lembaran uang leceknya. “Bang, mau juga? Aku beliin. Enak lho.” Lelaki tua penjaja kacang rebus cuma bengong.
“Satu lagi. Buat temanku ini.”
Seorang bocah remaja, yang dari sorot matanya sepintas kusangka pembuat onar, pemilik sorot mata maling dan tak kenal kebaikan, ternyata telah membuatku tersenyum kecewa. Penilaianku salah. Tidak sesuai dengan harapanku. Beberapa kali sorot mata itu beradu dengan milikku dan walau aku lelaki muda yang berbadan tegap, tetap saja ada rasa merinding. Mungkin dia merasakan penilaianku yang jelek tentangnya.
“Boleh aku saran, bang.” Si bocah memulai lagi obrolannya dengan lelaki tua penjaja kacang. “Jualan kacang goreng aja. Bisa tahan lebih lama dan untungnya nggak beda dengan kacang rebus. Kalau kacang rebuskan bisa basi. Sehari aja rasanya udah nggak enak. Kalau udah begitu Abang rugi jadinya.”
“Biasanya dua hari kacangku udah habis. Kalau menyimpannya bener, kacang rebus bisa tahan sampe dua-tiga hari kok.”
“Tapi rasanya udah beda.” Si bocah memberikan alasannya. “Coba juga dagangan yang lain, jangan cuma kacang rebus. Ditambah jualan kacang bawang, mungkin juga bisa kacang telor atau apa aja yang nggak mudah basi. Pokoknya yang awet dan bisa nambah untunglah bang.”
Si bocah terus saja ngomong dan mendengar dan ngomong lagi. Di sinilah tempat mereka berada, di atas gerbong ekonomi, di samping tempat tinggalku. Tempat orang-orang terbuang dan penyusup malam.
***
Sementara kereta besi semakin mendekati ibu kota. Cadar malam yang gelap sebentar lagi akan tersingkap mentari pagi. Aku masih berada di gerbong ekonomi, tempat orang-orang terbuang dan penyusup malam. Aku masih mencoba menggapai mimpi yang kubawa serta dari desaku. Cerita tentang para pemimpin bangsa, gambar-gambar gedung megah yang kupandang nanar dan impian yang bertengger dalam sorot mata yang berbinar, masih menghiasi malam bercadar yang sedang kulalui.
Dulu sempat aku bermimpi menjadi seorang carik, mantri atau bahkan bupati. Jabatan yang waktu itu aku anggap sangat mentereng. Seorang carik desa bisa membangun rumah megah dan menyekolahkan Bony, teman sekelas akangku yang pindah sekolah ke kota dan tidak lagi dipanggil Boniman, setelah berhasil membantu warga dalam penjualan tanah. Seorang mantri desa yang memiliki dua orang istri karena dianggap sakti setelah berhasil menghentikan wabah disentri hanya dengan meminumkan air masakannya. Dan seorang bupati yang setiap hari naik mercy.
Tapi sekarang aku tidak lagi bermimpi menjadi carik, mantri atau bahkan bupati. Jabatan itu sekarang sudah tidak lagi mentereng, setelah Bony pulang ke kampung halaman. Setelah pak carik merasa begitu bangga atas keberhasilan Bony. Setelah Rima, kembang desa yang menjadi pujaan lelaki, lebih memilih Bony ketimbang pak mantri. Setelah mercy pak bupati terlihat kuno bila dibandingkan mercynya Bony.
Dan sekarang di sinilah aku berada. Di atas kereta besi, di dalam gerbong ekonomi, seperti Bony enam tahun lalu. Menuju ibu kota dengan membawa gambar-gambar gedung megah yang kupandang nanar dan impian yang bertengger dalam sorot mata yang berbinar. Setelah mendengar cerita Bony yang berhasil menjadi ketua partai politik dan menjadi anggota dewan legeslatif.
***
“Permisi bapak-bapak, ibu-ibu! Biar saya bersihkan dulu. Permisi bang!” Seorang lelaki muda berbadan kurus dan berjambang mengais-ngais sampah yang berserakan di lantai gerbong tempat tinggalku. Sepotong sapu pendek, dengan tangkai yang sengaja dipotong pendek, bergerak-gerak membuat sampah sisa makanan, kulit kacang, kulit salak, plastik bungkus tahu dan abu rokok di bawahku tambah berserakkan tak menentu. Tangannya menengadahkan kantong plastik yang langsung bisa kuterka berisi uang receh, diiringi pandangan memaksa ke setiap penumpang yang terbuang. “Uang kebersihannya, bang. Seiklasnya saja. Ayo, ayo demi kebersihan. Cepek-cepek juga nggak pa-pa, apalagi cemban.”
Si bocah remaja yang duduk di deretan paling belakang mencibir tingkah pola lelaki muda penjaga kebersihan.
“Nih. Ini namanya kerja keras. Bener-bener kerja. Kagak kayak kamu. Encrek ... encrek ... encrek ...! Udah bunyinya kagak karuan, suara parau lagi. Nggak bermutu.” Lelaki muda penjaga kebersihan bersandar di dinding WC sibuk menghitung pendapatannya hari ini.
“Apanya yang bermutu. Cuma pake sapu bubulan begitu kok bermutu. Lihat tuh, pakean aja yang perlente tapi kantong tetep kere.” Si bocah remaja terpancing emosinya.
“Tengik!” Lelaki muda penjaga kebersihan juga emosi. “Coba mana peralatanmu. Ayo, coba tunjukkan.” Tangannya mendorong kepala si bocah dengan kasar, lalu merampas kaleng yang tersimpan di saku si bocah.
“Ini. He ... he ... Cuma ini yang kamu gunakan. Kamu kagak bisa cari uang pake ini.” Kaleng berisi pasir milik si bocah di lemparkannya dengan asal dan menimbulkan bunyi berkelontang. Lalu dia ngeloyor pergi.
“Bajingan tetep aja jadi bajingan. Nggak pernah bisa sadar. Kamu kira aku takut apa! Dasar pengemis kere, lu!” Si bocah berteriak kesal, tapi si lelaki tidak menghiraukan. Sepatu pantofelnya berkeresek di lantai gerbong mengikuti langkah kakinya ngeloyor pergi.
“Gini-gini aku cari uang dengan halal. Kagak mau maling atau meras kayak kamu.” Sorot matanya yang membuatku merinding tadi sekarang bertambah garang. Tubuhnya kecil, tapi nyalinya tidak surut menghadapi tipe manusia apapun. Mungkin karena kehidupan keras yang sudah menempanya, telah membentuk mental baja. Begitu pikirku.
“Bang. Aku nggak suka cari masalah. Tapi kalo diganggu, aku akan lawan dia.” Katanya pada lelaki tua penjual kacang. “Aku lebih suka cari teman. Lebih enak berteman. Bisa hidup damai. Cari musuh hanya dapet penyakit. Betul nggak.”
Si lelaki tua cuma diam saja. Dan aku mendengar omelannya karena tertarik. Tadinya aku juga menyangka dia menggunakan lem kaleng itu untuk mabuk, seperti yang pernah aku lihat di tv, nge-fly dengan menghirup uap lem kaleng. Tapi ternyata kaleng itu berisi butiran halus untuk ngamen.
“Ditangkep polisi nggak enak bang. Digebukin melulu tiap harinya. Badan bisa jadi bengep semua. Mending kalo langsung mati, enak. Tapi kalo masih hidup, bisa tambah susah. Udah nggak bisa cari duit, malah harus beli obat. Makanya aku suka berteman dengan orang kayak abang ini. Kagak bermasalah. Kalau sama orang nggak bener kayak dia itu tuh, bisa berabe bang. Hidup jadi susah.”
Si bocah merasa dipandangi. Dia melihatku dan membuat degup jantungku berdesir lebih cepat.
“Betul nggak bang?” tanyanya. Aku cuma tersenyum tanpa mengeluarkan suara.
“Abang nggak usah takut ama aku. Aku nggak ngapa-ngapa.” Si bocah berdiri dan berjalan ke arah tempat tinggalku. “Pinjem korek dong bang.”
Aku ulurkan korek dan bungkus rokok milikku.
“Koreknya aja bang. Aku udah punya rokok sendiri. Aku punya prinsip nggak mau minta-minta bang. Kayak orang rendahan aja.” Asap rokoknya segera menyembul dari sela-sela mulut dan lubang hidungnya. Tapi aku masih merasa resah. “Yang abang takuti itu harusnya orang kayak dia tadi. Dia itu kejam. Nggak bermoral. Tapi gertak aja dia, pasti keder. Aku kagak takut ama orang kayak dia. Yang aku takuti itu ada dua. Polisi ama orang pemerintah yang suka ngejar-ngejar seenaknya. Padahal aku usaha halal, nggak meras atau maling. Tapi orang seperti aku nggak dipercaya bang ama mereka. Tetep aja dikejar-kejar. Aku juga pengen punya usaha sendiri bang, terus cari istri.”
Aku tersenyum lagi mendengarnya. Lalu dia ngeloyor pergi.
***
Si Bony sekarang udah jadi orang. Anggota dewan legeslatif dari sebuah partai besar bisa membuatnya jadi kaya mendadak. Sewaktu pulang kampung kemarin, dia membagi-bagikan bingkisan yang katanya dibawanya dari Jakarta dan luar negeri. Orang sekampung mendadak mengangkatnya jadi pahlawan desa. Bupati mengundangnya dengan jamuan khusus ala pejabat dari pusat yang sedang melakukan sidak. Derajat keluarganya mendadak sejajar dengan para priyayi keluarga kerajaan.
Suatu kebetulan rumah orang tuaku berada di samping rumahnya yang megah. Dan suatu kebetulan juga si Bony sempat melihatku dan mengajakku ngobrol. Entah mengapa dia senang dengan caraku ngomong yang memang ceplas ceplos dan sekenanya. Aku hanya lulus SMP dan tidak tamat SMA karena tidak punya biaya lagi. Tapi aku senang melihat berita di tv, membaca tulisan di koran yang menjadi bungkus makanan, atau mendengar cerita orang-orang. Dan itu kujadikan bahan obrolan dengan si Bony. Dan entah mengapa dia tertarik dengan omonganku. Ijasah tidak terlalu diperlukan, karena bisa dibuat kalau punya uang. Begitu katanya saat menceritakan pengalamannya. Yang penting punya kemampuan ngomong dan menemukan alasan yang tepat bila diperlukan. Dan aku memiliki kemampuan itu menurutnya, tinggal keberanian yang masih perlu diasah lagi.
Uang saku diberikannya padaku. Tiket kereta api sudah siap, tinggal menunggu berangkat saja. Dan alamat rumah sudah diberikan padaku. Nanti setelah sampai di stasiun tinggal telpon saja dan ada orang yang akan menjemputku. Dan di sinilah aku sekarang berada, di atas kereta besi, di dalam gerbong ekonomi, sedang menunggu munculnya gedung-gedung megah yang pernah kupandang nanar dan impian yang bertengger dalam sorot mata berbinar.
Dari solo ke jakarta
Kisah menjelang tahun baru.
2 Pebruari 2004.
0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home