BANYOLAN KONYOL
santopay
Suatu hari, temanku berkata kepadaku. “Hei ...! Hei ...! Sini ... Jo! Cepat ke sini ... Aku beritahu, suatu hari nanti aku akan jadi pemimpin masa depan. Lihat ini!” katanya sambil menyodorkan segebok kertas dengan aneka ragam warna dan bingkai yang membuat mata tertarik memandangnya. “Pelatihan-pelatihan dan workshop penting. Para pakar kepemimpinan, Psikolog-psikolog hebat, Pembicara-pembicara ulung, semuanya telah aku serap. Aku juga memiliki makalah-makalah hebat mereka.”
Dengan nada meninggi dan kepala sedikit mendongak ke atas seolah merendahkan diriku, dia berkata lagi. “Kalau kamu mau, kamu juga bisa menjadi pemimpin masa depan. Bangsa ini membutuhkan orang-orang muda yang brilian. Sekaranglah saatnya bagi kita untuk memimpin bangsa ini keluar dari penderitaan.”
Aku masih diam terpaku menatap semua sertifikat dan kertas-kertas yang ada di tangannya. Dia tertawa dengan keras. Telapak tangannya menepuk pundakku dengan keras seakan ingin menyadarkanku dari lamunan. “Sudahlah! Tak ada gunanya hanya berdiri dan melamunkan hari esok.” Kemudian dia melangkah pergi dengan bangganya. Merasa dirinya telah memiliki bekal yang tebal. Merasa dirinya telah siap menjadi pemimpin hebat. Dan aku hanya diam sambil menahan panas yang menjalar di pundakku.
Sejenak aku termenung, membiarkan berbagai suara-suara beradu dalam benakku. Aku duduk bersila di samping kandang kuda milik bapak kepala desa. ‘Bagaimana mungkin aku belajar menjadi seorang pemimpin dari temanku yang konyol seperti itu? Bagaimana mungkin hanya duduk dan mendengarkan ocehan-ocehan bisa menjadi seorang pemimpin?’ Walau cuma berharap sekalipun, rasanya sungguh berat. Itu hanyalah tindakan konyol. Bahkan otakku yang paling encer masih tidak bisa menerima barang secuil pun ide semacam itu.
Sementara waktu terus bergulir menerjang segala keresahan yang kurasakan. Pagi telah berganti siang, dan siang sebentar lagi akan menampilkan wajah kegelapan malam. Rona kemerahan senja seakan menggoda bola mataku yang berkeliaran mencari makna. Tatkala seorang serdadu dengan wajah lusuh memanggul peluru tertangkap oleh ujung mataku. Suaranya keras menyapa. “Hai, kawan. Kenapa duduk termenung seperti itu? Sedang menunggu seseorang?”
“Ya, aku sedang menunggu seseorang!” Entah darimana aku mendapatkan jawaban itu. Aku sendiri tak menyadarinya. Kata-kata itu sepertinya keluar begitu saja. Tapi mendadak aku menyukainya.
“Siapa orang yang kamu tunggu itu? Dia benar-benar tidak punya harga diri!” Aku kaget mendengar emosi yang keluar dari mulutnya. Tanpa tendeng aling-aling dan tanpa basa-basi, bagai gelegar geledek di siang bolong. Dia menatapku dengan tajam, menantikan mulutku mengatakan sesuatu. Dan akhirnya aku sadar bahwa keadaanku memang membuatnya prihatin. Lusuh dan tak terawat.
“Aku sedang menunggu seseorang yang bisa mengajariku menjadi seorang pemimpin.” Lagi-lagi aku menjawab sekenanya. Apa yang terlintas di benakku, terlontar dengan leluasa tanpa melalui sensor otakku lagi. Dan sekali lagi aku menyukai jawaban itu. Karena memang itulah yang sedang aku nantikan.
Mata yang tadinya melotot, dengan cepat digusur oleh senyuman yang tersungging di pipi. Serdadu itu meringis mendengar apa yang kukatakan. “Kalau kamu ingin menjadi seorang pemimpin, ikutlah denganku.” Katanya penuh semangat. “Banyak orang akan takut padamu. Bahkan setiap perintahmu akan dipatuhi dan dilaksanakan dengan cepat. Takkan ada seorangpun yang berani membantah.”
Kata-katanya tegas dan mantap. Raut mukanya begitu meyakinkan. Tak nampak penat dan lusuh seperti pertama kali tadi aku melihatnya. Dia memang sangat berwibawah. Juga gagah. Dan aku mulai tertarik mendengar penjelasannya lebih banyak lagi.
“Tunjukkan padaku di mana anak buahmu kini berada supaya aku bisa bergabung dengan mereka dan menjadi seperti dirimu!”
Serdadu itu menjawab dengan lantang dan tanpa ada nada keraguan. “Mereka sekarang sedang berada di medan laga, berjuang memperebutkan daerah kekuasaan.”
Serdadu itu lalu menghampiriku, menepuk pundakku persis di tempat yang tadi. Kemudian dia melangkah pergi dengan langkah kaki layaknya seorang pemberani. Menuju rumah sang istri untuk kepuasan dirinya pribadi.
Kali ini pundakku terasa nyeri setelah mendapatkan dua tepukan bertubi-tubi. Dan anehnya, ketertarikanku tadi juga sirna bersama langkah kaki serdadu yang pergi meninggalkanku. Perasaanku kembali resah. Dan suara-suara dalam kepala ini seakan berlomba untuk kumuntahkan. Untuk kedua kalinya aku berkata dalam hati. ‘Bagaimana mungkin aku belajar menjadi seorang pemimpin dari seorang seperti dia? Manusia yang tidak bertanggung jawab dan lebih mementingkan kepuasan diri pribadinya semata.’
Aku kembali menatap kandang kuda, menerawang kuda-kuda yang berlari mengejar senja. Seekor kuda hitam berlari paling depan memimpin kawanan mencari jalan menghindari rintangan. Telingaku seakan mendengar kegembiraan dari ringkikan yang saling bersahutan. Tanpa sadar, muncul angan-angan. Andaikan aku bisa menjadi poni jantan, memimpin tanpa paksaan dan berlari tanpa beban.
“Anak muda! Apa yang sedang kamu lamunkan?!” Seorang lelaki sudah berdiri di belakangku dan memberikan pandangan yang membuyarkan lamunan. Bola mataku menangkap sosok lelaki tua dengan baju lusuh dan tangan kanan memegang tongkat kayu. Caping bambu menggelantung di bahu, juga sudah lusuh termakan waktu. Lama aku terpaku menatap lelaki tua seumuran kakekku itu.
“Wahai anak muda, apa yang sedang kamu lamunkan?” Suaranya lirih, tapi mampu menggetarkan sendi-sendi tubuhku. Dan aku pun terjaga.
“Oh, maaf bapak tua! Saking kagetnya aku sampai lupa menjawabmu.” Kataku dengan polos. “Aku sedang mendambakan menjadi seorang pemimpin, bagaikan kuda poni hitam yang memimpin kawanan itu.”
Wajah bapak tua tanpa ekspresi menatap ke arahku. Seakan sepucuk senapan ditodongkan ke kepalaku. Aku jadi bimbang dan ragu.
“Kamu ingin menjadi seorang pemimpin?” Tanyanya lagi.
“Ya!” Jawabku singkat. Dan tiba-tiba saja mulutku nyerocos melanjutkan. “Apakah bapak bisa menunjukkan jalan padaku?”
“Ikutlah denganku, maka akan kutunjukkan suatu tempat di mana kamu bisa belajar menjadi seorang pemimpin.”
Setelah berkata demikian, bapak tua itu berjalan di depan dan aku mengikutinya dengan enggan. Dan anehnya, kenapa aku mau menuruti begitu saja, seolah ada tarikan kuat dan membuat diriku gelisah. Dia hanyalah lelaki tua, dengan tubuh rentah dan langkah kaki yang tak lagi gagah. Seolah ada tarikan magnet yang membuat tubuhku lengket. Dan aku lelaki muda, dengan badan tegap dan langkah kaki mantap. Tapi tak mampu lagi menghindar.
Beberapa saat setelah senja berganti malam kelam, aku dan bapak tua telah sampai di suatu puing-puing reruntuhan. Mungkin bangunan yang hancur karena perang. Aku jadi heran, kenapa bapak tua membawaku ke tempat ini. Ada suara-suara dalam benakku bergejolak seakan hendak menolak. Emosi darah mudaku terlonjak.
“Hei, bapak tua! Mengapa kamu membawaku ke tempat seperti ini?” Suaraku mungkin terdengar ketus. Bahkan aku sendiri tak bisa mempercayainya. Lagi-lagi terlontar begitu saja.
“Bukankah kamu ingin menjadi seorang pemimpin?” Jawabnya enteng seakan tak menghiraukan ketidaksopananku. “Maka ikutlah denganku! Dan, percayalah padaku!”
Aku berusaha menerima jawaban itu, walau hati ini masih tetap risau. Kuikuti langkah kaki bapak tua itu memasuki puing-puing semakin ke dalam. Dan semakin ke dalam, setiap tapak kaki menjejak tanah, perasaanku menjadi bertambah heran. Kulihat orang-orang lusuh, anak-anak berbadan ceking dengan pakaian compang-camping, wajah-wajah polos menyiratkan penderitaan, berjajar-jajar dan berbaring di tempat yang tak layak ditempati. Mereka semua manusia, tapi mengapa bisa mirip dengan sampah. Terpisah dari peradaban dan menjadi sisa-sisanya. Siapa yang telah melakukannya? Aku terkesiap.
“Anak muda!” Suara bapak tua itu menyadarkanku. “Kalau kamu ingin benar-benar jadi pemimpin, maka kamu harus bisa membuat mereka bahagia. Kamu harus mau membantu mereka terlepas dari penderitaan. Kamu harus mau melayani mereka. Kamu harus setia menemani mereka dalam suka maupun duka.”
Dan aku hanya bisa terdiam membisu mendengar perkataan bapak tua itu. kembali kulihat sekelilingku yang penuh dengan manusia-manusia berwajah lusuh. Lama aku diam terpaku. Sementara suara-suara dalam benakku terus beradu ingin terlontar satu per satu. Dan telingaku menangkap teriakan pilu.
“Tolong. Dengarkanlah kami! Wahai pemimpin bangsa ini!”
Surabaya, 10 Desember ‘03
Revisi dari: terjemahan hati yang menggugat. ‘97
santopay
Suatu hari, temanku berkata kepadaku. “Hei ...! Hei ...! Sini ... Jo! Cepat ke sini ... Aku beritahu, suatu hari nanti aku akan jadi pemimpin masa depan. Lihat ini!” katanya sambil menyodorkan segebok kertas dengan aneka ragam warna dan bingkai yang membuat mata tertarik memandangnya. “Pelatihan-pelatihan dan workshop penting. Para pakar kepemimpinan, Psikolog-psikolog hebat, Pembicara-pembicara ulung, semuanya telah aku serap. Aku juga memiliki makalah-makalah hebat mereka.”
Dengan nada meninggi dan kepala sedikit mendongak ke atas seolah merendahkan diriku, dia berkata lagi. “Kalau kamu mau, kamu juga bisa menjadi pemimpin masa depan. Bangsa ini membutuhkan orang-orang muda yang brilian. Sekaranglah saatnya bagi kita untuk memimpin bangsa ini keluar dari penderitaan.”
Aku masih diam terpaku menatap semua sertifikat dan kertas-kertas yang ada di tangannya. Dia tertawa dengan keras. Telapak tangannya menepuk pundakku dengan keras seakan ingin menyadarkanku dari lamunan. “Sudahlah! Tak ada gunanya hanya berdiri dan melamunkan hari esok.” Kemudian dia melangkah pergi dengan bangganya. Merasa dirinya telah memiliki bekal yang tebal. Merasa dirinya telah siap menjadi pemimpin hebat. Dan aku hanya diam sambil menahan panas yang menjalar di pundakku.
Sejenak aku termenung, membiarkan berbagai suara-suara beradu dalam benakku. Aku duduk bersila di samping kandang kuda milik bapak kepala desa. ‘Bagaimana mungkin aku belajar menjadi seorang pemimpin dari temanku yang konyol seperti itu? Bagaimana mungkin hanya duduk dan mendengarkan ocehan-ocehan bisa menjadi seorang pemimpin?’ Walau cuma berharap sekalipun, rasanya sungguh berat. Itu hanyalah tindakan konyol. Bahkan otakku yang paling encer masih tidak bisa menerima barang secuil pun ide semacam itu.
Sementara waktu terus bergulir menerjang segala keresahan yang kurasakan. Pagi telah berganti siang, dan siang sebentar lagi akan menampilkan wajah kegelapan malam. Rona kemerahan senja seakan menggoda bola mataku yang berkeliaran mencari makna. Tatkala seorang serdadu dengan wajah lusuh memanggul peluru tertangkap oleh ujung mataku. Suaranya keras menyapa. “Hai, kawan. Kenapa duduk termenung seperti itu? Sedang menunggu seseorang?”
“Ya, aku sedang menunggu seseorang!” Entah darimana aku mendapatkan jawaban itu. Aku sendiri tak menyadarinya. Kata-kata itu sepertinya keluar begitu saja. Tapi mendadak aku menyukainya.
“Siapa orang yang kamu tunggu itu? Dia benar-benar tidak punya harga diri!” Aku kaget mendengar emosi yang keluar dari mulutnya. Tanpa tendeng aling-aling dan tanpa basa-basi, bagai gelegar geledek di siang bolong. Dia menatapku dengan tajam, menantikan mulutku mengatakan sesuatu. Dan akhirnya aku sadar bahwa keadaanku memang membuatnya prihatin. Lusuh dan tak terawat.
“Aku sedang menunggu seseorang yang bisa mengajariku menjadi seorang pemimpin.” Lagi-lagi aku menjawab sekenanya. Apa yang terlintas di benakku, terlontar dengan leluasa tanpa melalui sensor otakku lagi. Dan sekali lagi aku menyukai jawaban itu. Karena memang itulah yang sedang aku nantikan.
Mata yang tadinya melotot, dengan cepat digusur oleh senyuman yang tersungging di pipi. Serdadu itu meringis mendengar apa yang kukatakan. “Kalau kamu ingin menjadi seorang pemimpin, ikutlah denganku.” Katanya penuh semangat. “Banyak orang akan takut padamu. Bahkan setiap perintahmu akan dipatuhi dan dilaksanakan dengan cepat. Takkan ada seorangpun yang berani membantah.”
Kata-katanya tegas dan mantap. Raut mukanya begitu meyakinkan. Tak nampak penat dan lusuh seperti pertama kali tadi aku melihatnya. Dia memang sangat berwibawah. Juga gagah. Dan aku mulai tertarik mendengar penjelasannya lebih banyak lagi.
“Tunjukkan padaku di mana anak buahmu kini berada supaya aku bisa bergabung dengan mereka dan menjadi seperti dirimu!”
Serdadu itu menjawab dengan lantang dan tanpa ada nada keraguan. “Mereka sekarang sedang berada di medan laga, berjuang memperebutkan daerah kekuasaan.”
Serdadu itu lalu menghampiriku, menepuk pundakku persis di tempat yang tadi. Kemudian dia melangkah pergi dengan langkah kaki layaknya seorang pemberani. Menuju rumah sang istri untuk kepuasan dirinya pribadi.
Kali ini pundakku terasa nyeri setelah mendapatkan dua tepukan bertubi-tubi. Dan anehnya, ketertarikanku tadi juga sirna bersama langkah kaki serdadu yang pergi meninggalkanku. Perasaanku kembali resah. Dan suara-suara dalam kepala ini seakan berlomba untuk kumuntahkan. Untuk kedua kalinya aku berkata dalam hati. ‘Bagaimana mungkin aku belajar menjadi seorang pemimpin dari seorang seperti dia? Manusia yang tidak bertanggung jawab dan lebih mementingkan kepuasan diri pribadinya semata.’
Aku kembali menatap kandang kuda, menerawang kuda-kuda yang berlari mengejar senja. Seekor kuda hitam berlari paling depan memimpin kawanan mencari jalan menghindari rintangan. Telingaku seakan mendengar kegembiraan dari ringkikan yang saling bersahutan. Tanpa sadar, muncul angan-angan. Andaikan aku bisa menjadi poni jantan, memimpin tanpa paksaan dan berlari tanpa beban.
“Anak muda! Apa yang sedang kamu lamunkan?!” Seorang lelaki sudah berdiri di belakangku dan memberikan pandangan yang membuyarkan lamunan. Bola mataku menangkap sosok lelaki tua dengan baju lusuh dan tangan kanan memegang tongkat kayu. Caping bambu menggelantung di bahu, juga sudah lusuh termakan waktu. Lama aku terpaku menatap lelaki tua seumuran kakekku itu.
“Wahai anak muda, apa yang sedang kamu lamunkan?” Suaranya lirih, tapi mampu menggetarkan sendi-sendi tubuhku. Dan aku pun terjaga.
“Oh, maaf bapak tua! Saking kagetnya aku sampai lupa menjawabmu.” Kataku dengan polos. “Aku sedang mendambakan menjadi seorang pemimpin, bagaikan kuda poni hitam yang memimpin kawanan itu.”
Wajah bapak tua tanpa ekspresi menatap ke arahku. Seakan sepucuk senapan ditodongkan ke kepalaku. Aku jadi bimbang dan ragu.
“Kamu ingin menjadi seorang pemimpin?” Tanyanya lagi.
“Ya!” Jawabku singkat. Dan tiba-tiba saja mulutku nyerocos melanjutkan. “Apakah bapak bisa menunjukkan jalan padaku?”
“Ikutlah denganku, maka akan kutunjukkan suatu tempat di mana kamu bisa belajar menjadi seorang pemimpin.”
Setelah berkata demikian, bapak tua itu berjalan di depan dan aku mengikutinya dengan enggan. Dan anehnya, kenapa aku mau menuruti begitu saja, seolah ada tarikan kuat dan membuat diriku gelisah. Dia hanyalah lelaki tua, dengan tubuh rentah dan langkah kaki yang tak lagi gagah. Seolah ada tarikan magnet yang membuat tubuhku lengket. Dan aku lelaki muda, dengan badan tegap dan langkah kaki mantap. Tapi tak mampu lagi menghindar.
Beberapa saat setelah senja berganti malam kelam, aku dan bapak tua telah sampai di suatu puing-puing reruntuhan. Mungkin bangunan yang hancur karena perang. Aku jadi heran, kenapa bapak tua membawaku ke tempat ini. Ada suara-suara dalam benakku bergejolak seakan hendak menolak. Emosi darah mudaku terlonjak.
“Hei, bapak tua! Mengapa kamu membawaku ke tempat seperti ini?” Suaraku mungkin terdengar ketus. Bahkan aku sendiri tak bisa mempercayainya. Lagi-lagi terlontar begitu saja.
“Bukankah kamu ingin menjadi seorang pemimpin?” Jawabnya enteng seakan tak menghiraukan ketidaksopananku. “Maka ikutlah denganku! Dan, percayalah padaku!”
Aku berusaha menerima jawaban itu, walau hati ini masih tetap risau. Kuikuti langkah kaki bapak tua itu memasuki puing-puing semakin ke dalam. Dan semakin ke dalam, setiap tapak kaki menjejak tanah, perasaanku menjadi bertambah heran. Kulihat orang-orang lusuh, anak-anak berbadan ceking dengan pakaian compang-camping, wajah-wajah polos menyiratkan penderitaan, berjajar-jajar dan berbaring di tempat yang tak layak ditempati. Mereka semua manusia, tapi mengapa bisa mirip dengan sampah. Terpisah dari peradaban dan menjadi sisa-sisanya. Siapa yang telah melakukannya? Aku terkesiap.
“Anak muda!” Suara bapak tua itu menyadarkanku. “Kalau kamu ingin benar-benar jadi pemimpin, maka kamu harus bisa membuat mereka bahagia. Kamu harus mau membantu mereka terlepas dari penderitaan. Kamu harus mau melayani mereka. Kamu harus setia menemani mereka dalam suka maupun duka.”
Dan aku hanya bisa terdiam membisu mendengar perkataan bapak tua itu. kembali kulihat sekelilingku yang penuh dengan manusia-manusia berwajah lusuh. Lama aku diam terpaku. Sementara suara-suara dalam benakku terus beradu ingin terlontar satu per satu. Dan telingaku menangkap teriakan pilu.
“Tolong. Dengarkanlah kami! Wahai pemimpin bangsa ini!”
Surabaya, 10 Desember ‘03
Revisi dari: terjemahan hati yang menggugat. ‘97
0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home